DETEKSI DINI KANKER AWAL KESEMBUHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

DETEKSI DINI KANKER

AWAL KESEMBUHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Oleh: M. GAMAL EDDIN (0910313198)

Dari beberapa kasus di Rumah Sakit, pasien kanker datang ke dokter untuk melakukan pemeriksaan sudah berada dalam tahap lanjut. Pasien biasanya berusia lanjut dan mengalami gejala utama berupa benjolan abnormal pada daerah tubuh tertentu dengan manifestasi sistemik tumor. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosis bahwa pasien  menderita tumor dan sudah berada dalam tahap lanjut. Pasien mempunyai harapan hidup pendek dan survival year <5 tahun. Selain itu, beberapa kanker mempunyai prognosis buruk bagi pasien seperti, karsinoma hepatoseluler, kanker kolorektal, dan kanker pankreas apalagi jika sudah berada dalam tahap lanjut. Meski telah dilakukan terapi, baik bersifat  lokal maupun sistemik, masih berisiko untuk tidak mencapai remisi dan dapat eksaserbasi. Penanganan kanker stadium lanjut juga mempunyai dampak buruk lainnya seperti, dari pasien sendiri, biaya pengobatan tinggi dan dan pengobatan jangka waktu yang cukup lama. Kanker stadium terminal merupakan penyebab penyakit ini tak dapat disembuhkan lagi dan menyebabkan kematian. Maka salah satu tindakan atau usaha untuk mencegah penyakit ini seawal mungkin untuk menjadi stadium lanjut yaitu dengan melakukan deteksi dini kanker dan beberapa usahanya, salah satunya, yaitu skrining kanker.

Kanker adalah suatu penyakit keganasan atau neoplasma yang menyerang suatu sel sehingga sel tersebut mengalami kelainan atau mutasi. Penyebab kanker sebagian besar adalah adanya gen abnormal pada sel sehingga mengalami mutasi. Sel yang mempunyai gen abnormal yang berpotensi menjadi sel kanker disebut onkogen yang mempunyai kemampuan berproliferasi cepat, menyerang jaringan lain, dan dapat menyebar ke jaringan lain secara sistemik melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening yang disebut metastasis sel kanker.

Tumor dapat diklasifikasikan 2 jenis yaitu, benigna tumor (tumor jinak) dan maligna tumor (tumor ganas) beserta sifat dari kedua jenis tumor tersebut. Tumor jinak berdiferensiasi baik dengan sifatnya tidak ada/ sangat jarang metastasis ke organ lain sedangkan tumor ganas mempunyai sifat diferensiasi buruk dengan pambelahan sel yang sangat cepat, menginfiltrasi/ menginvasi jaringan lain, dan metastasis ke organ lain. Maka, deteksi dini dilakukan untuk mencegah diferensiasi dan pertumbuhan tumor, baik tumor jinak maupun ganas, sehingga dapat memutus perjalanan penyakit seawal dan sebaik mungkin.

Kanker adalah penyakit keganasan sel yang dapat “beranak pinak” sehingga dapat mengenai keturunan yang bersifat ganas pula. Bakat pewarisan keturunan ini diturunkan secara fenotip yaitu “apa yang dapat dilihat dari individu tersebut” dan merupakan pewarisan dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Apabila dalam satu keluarga memiliki gen kanker maka, keturunan dibawahnya dapat mewarisi sifat gen kanker keluarga tersebut.

Kebanyakan kanker, khususnya stadium lanjut, menyebabkan kematian terutama di negara berkembang sebagian besar akibat dari pasien itu sendiri. Penderita kanker memeriksakan diri jika sudah mengalami gejala yang berat dan menganggu aktivitas misalnya nyeri pada benjolan, perdarahan abnormal, demam, ikterus, dan berat badan turun akibat nafsu makan menurun. Hal ini merupakan manifestasi sitemik dari kanker stadium lanjut. Padahal kanker merupakan penyakit dengan laju pertumbuhan yang relatif cepat dan insiden meningkat seiring bertambahnya usia.

Penderita kanker dapat mencapai harapan kesembuhan tinggi apabila melakukan diagnosis secara dini dan upaya medis untuk mencegah agar penyakit tersebut tidak menimbulkan gejala yang lebih berat. Diagnosis dini adalah mengetahui penyakit lebih awal sebelum gejala klinik tampak sehingga dapat diatasi sedini mungkin. Dengan mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada penderita tumor maka, perjalanan penyakit kanker ini diharapkan mencapai remisi dari waktu ke waktu.

Dengan mengetahui penyakit ini seawal mungkin maka, dapat  mencegah timbulnya manifestasi lanjut sehingga manfaat terapi dengan operasi diharapkan operasi yang invasif minimal. Disamping itu, diharapkan teknik operasi yang rasional sehingga risiko dan efek samping dapat diperkecil dalam pengobatan suatu tumor seperti pada karsinoma esofagus, gaster, dan kolon biasanya berifat multifokal dan sedapat mungkin diperluas agar tidak timbul residif sel tumor pascaterapi.

Kanker adalah salah satu penyakit yang dalam pemeriksaan untuk penegakan diagnosis dan pemberian terapi memerlukan biaya tinggi misalnya, pemeriksaan penunjang pencitraan Magnetic Resonance Imaging (IMR) dan didukung juga teknologi pencitraan tumor tingkat tinggimasih belum banyak digunakan, walaupun teknologi pemeriksaan kanker telah mengalami peningkatan pesat. Selain itu, pemberian terapi kanker juga berisiko tinggi dan tidak jarang dapat menimbulkan komplikasi seperti efek samping pasca operasi pengangkatan tumor, terapi radiasi tumor yang sering menimbulkan asma dan alergi, dan pemberian obat antitumor yang bersifat toksik.

Dari berbagai penelitian, sekitar 1/3 kasus kanker dapat disembuhkan jika ditemukan dan diterapi secara dini. Deteksi dini adalah salah satu modalitas pencegahan kanker stadium lanjut dengan salah satu usahanya yang dapat dilakukan yaitu skrining kanker. Modalitas di sini adalah salah satu tindakan awal dalam pencegahan kanker stadium lanjut .Jadi dengan upaya ini diharapkan harapan hidup pasien tinggi dengan tidak membebani pasien dari segi biaya pengobatan dan memperbaiki kualitas hidup penderita kanker.

Dalam hal pelaksanaannya, deteksi dini merupakan tindakan dengan melakukan pencegahan dan pengendalian terhadap etiologi kanker. Etiologi kanker bersifat multifaktorial. Berbagai hal dapat mempengaruhi terjadinya kanker terhadap seorang individu. Interaksi lingkungan dengan individu merupakan faktor risiko penting terjadinya tumor seperti, kontak dengan karsinogen jangka lama di lingkungan pekerjaan dan berbagai pola dan gaya hidup suatu individu.

Usaha menemukan dan mendeteksi dini kanker sebagai bentuk pencegahan terhadap kanker dapat dibagi 3 bentuk yaitu, pencegahan primer yang merupakan upaya pencegahan sederhana dan efektif, pencegahan sekunder dengan metode skrining, dan pencegahan tersier dalam bentuk rehabilitasi pasien. Namun, pencegahan primer dan sekunder merupakan langkah terbaik dan efektif mencegah tumor stadium lanjut.

Pencegahan primer merupakan pencegahan kepada seorang individu sehat melalui pengendalian etiologi kanker sehingga dapat menghindarkan diri dari berbagai faktor pencetus dan risiko kanker. Metode pencegahan primer dapat dilakukan dokter dan individu. Dokter dapat melakukan upaya promosi kesehatan dengan cara memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada masyarakat tentang pencegahan kanker. Mengubah higiene buruk dan menjaga pola seksual sebagai faktor terjadi kanker serviks serta mengurangi diet tinggi lemak dan mengontrol asupan garam sebagai langkah mencegah diri terhadap faktor pencetus kanker lambung dapat dilakukan suatu individu dan usaha ini merupakan upaya pencegahan yang paling hemat dan efektif. Di samping itu, individu dapat melakukan pendeteksian awal tumor seperti, pemeriksaan rutin dengan perabaan payudara (SADARI). Maka, pencegahan primer merupakan langkah efektif namun sederhana dalam menurunkan faktor risiko kanker.

Menjaga pola makan sehat dan menghindarkan diri dari berbagai hal yang termasuk faktor risiko kanker seperti, tembakau, bahan kimia potensi karsinogen, dan stres serta menjaga ketahanan fisik dan kesehatan fungsi organ tubuh dengan berolahraga merupakan salah satu tindakan mencegah diri dari faktor risiko kanker.Lebih awal diterapkan dalam kehidupan sehari- hari semakin baik usaha individu dalam mencegah kerentanan faktor risiko kanker.Selain itu, dengan menghindari diri dari faktor risiko kanker dapat meningkatkan harapan hidup dengan terapi yang lebih sederhana seperti, terapi tumor stadium awal dapat dilakukan operasi namun, tidak memutuskan kemungkinan untuk mengalami pengobatan yang berujung gagal karena kanker merupakan salah satu penyakit dengan pengobatannya yang berisiko tinggi. Perlu ditekankan disini bahwa pencegahan diatas tidak berpengaruh mutlak dalam menghilangkan bakat sel kanker yg dimiliki seseorang. Contoh, jika individu memiliki gen kanker maka, individu tersebut tidak dapat menghilangkan secara mutlak gen tersebut dengan usaha menjaga pola makan serta menghindari diri dari hal risiko kanker tersebut.

Seperti yang telah disebutkan, salah satu tindakan dalam pendeteksian dini kanker adalah dengan melakukan skrining. Skrining adalah tindakan dengan melakukan beberapa pemeriksaan atau tes untuk mengelompokkan individu yang mempunyai faktor resiko untuk menentukan apakah positif atau tidaknya terhadap suatu penyakit. Maka, skrining termasuk dalam pencegahan sekunder kanker.

Skrining sebagai cara/ metode yang baik dan efektif dalam mendeteksi dini kanker pada dasarnya yaitu mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kanker dan melibatkan usahamenemukan kanker pada individu yang belum menderita kanker tapi mempunyai faktor risiko kanker. Jadi skrining lebih baik dilakukan pada usia 25- 30 tahun setelah diketahui bahwa individu tersebut berisiko tinggi terhadap kanker karena kanker tahap lanjut umumnya dialami individu lanjut usia. Namun, tiap pemeriksaan skrining mempunyai indikasi tertentu seperti kanker payudara direkomendasikan skrining usia muda dibawah 35 tahun, skrining kanker kolorektal usia 50 tahun ke atas, dan skrining kanker serviks dengan  usia 20 tahun ke atas.

Skrining bertujuan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap suatu penyakit seperti, skrining kanker serviks dengan papanicolaou test (PAP smear) dapat menurunkan 60%  morbiditas dan mortalitas terhadap wanita berisiko. Jadi skrining penyakit kanker adalah usaha untuk mendiagnosis dan  mencegah sebaik- baiknya penyakit  kanker,mengindentifikasi kanker lebih awal, dalam hal ini untuk tumbuh menjadi kanker stadium lanjut, agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar dari penderita sendiri. Manfaat lain yang dapat dirasakan dari skrining adalah dapat meningkatkan survival year >5 tahun.Apabila tes skrining positif dapat digunakan sebagai penegakan diagnosis.

Selain itu, skrining juga dapat digunakan untuk mengetahui seberapa baikkah atau efektivitas respon terapi yang diberikan seperti, seberapa efektifkah jika diberikan kemoterapi jangka panjang pada penderita kanker hati (karsinoma hepatoseluler) mengingat penyakit keganasan ini mempunyai prognosis buruk dengan adanya kontraindikasi seperti kontraindikasi absolut kemoterapi yaitu usia tua dengan staging terminal sehingga harapan hidup sangat pendek. Dengan adanya kontraindikasi tersebut, dokter harus memperhatikan faktor yang diperlukan dalam pemberian terapi seperti, dosis, cara pemberian, jadwal, keadaan medis pasien dengan memperhatikan fungsi organ inidividu tersebut .

Upaya deteksi dini dapat dilakukan oleh dokter maupun pasien sendiri. Kesadaran pasien sangat dibutuhkan dalam upaya ini dan merupakan bagian kebutuhan medis pasien itu sendiri dalam mencegah penyebaran kanker. Pengetahuan pasien tentang kanker yang dideritanya juga merupakan hal yang penting untuk menimbulkan kesadaran pasien betapa pentingnya mengetahui sedini mungkin penyakit yang dideritanya sehingga pasien segera melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit untuk mengindentifikasi apa sebenarnya yang terjadi pada diri pasien. Pengetahuan tentang penyakit kanker dapat diperoleh dengan mengikuti berbagi promosi kesehatan dan penyuluhan penyakit kanker. Jadi, kesadaran pasien, pengetahuan tentang penyakit ini, dan didukung dengan kooperatif pasien merupakan hal penting dalam upaya deteksi dini kanker.

Upaya yang dapat dilakukan dokter dalam mendeteksi kanker secara dini adalah dengan menemukan gejala atau keluhan yang terdapat pada pasien. Gejala dapat berupa gejala lokal seperti benjolan, gejala obstruksi ringan saluran pencernaan misalnya mual, kembung, dan obstruksi saluran pernafasan ringan. Gejala lokal ini biasanya tidak menganggu aktifitas sehari- hari pasien sehingga tidak menjadi perhatian utama pasien untuk segera melakukan pemeriksaan sehingga pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya. Maka, penderita sendiri enggan memeriksakan diri ke dokter maupun ke rumah sakit. Gejala sistemik kanker lebih kepada gejala yang mengenai jaringan tempat pertumbuhan kanker itu sendiri dan infiltrasi ke organ lainnya seperti kanker kolorektal yang menginfiltasi hepar dapat menimbulkan gejala berupa nyeri epigastrium dan keluarnya darah segar dari anus (hematoskezia). Pada tahap gejala sistemik inilah penderita memeriksakan dirinya sehingga dokter mendiagnosis penderita tersebut menderita kanker stadium lanjut.

Pemeriksaan rutin yang meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter merupakanupaya baik untuk mengetahui seawal mungkin tumor. Apabila penderita datang lebih awal ke dokter dalam melakukan pemeriksaan rutin, diagnosis dapat ditegakkan seawal mungkin.Ini merupakan salah satu tindakan dini untuk mencegah kanker stadium lanjut. Anamnesis  merupakan salah satu tindakan berupa tanya jawab dokter kepada pasien untuk menegakkan diagnostik suatu penyakit. Anamnesis kanker biasanya meliputi usia, pekerjaan, riwayat kanker sebelumnya, riwayat keluarga, diet,pengunaan obat- obatan,  pemeriksaan yang dilakukansebelumnya, dan keluhan yang dialami pasien. Anamnesis yang baik dapat menegakkan sekitar 55% diagnosis penyakit.

Dengan melakukan anamnesis yang baik, dokter mendapatkan hasil yang memuaskan dalam mendiagnosis suatu penyakit sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya. Maka, lebih awal pemeriksaan rutin yang dilakukan pasien dalam mengidentifikasi panyakit kanker, diagnosis pun dapat ditegakkan lebih awal. Pengobatan pun dapat diberikan lebih awal sebelum mencapai stadium lanjut. Pengobatan yang akan diberikan lebih awal dapat mencapai perbaikan dan prognosis yang baik sehingga tindakan ini merupakan salah satu upayabaik dalam deteksi dini.

Memiliki riwayat keluarga kanker merupakan salah satu alasan untuk rajin melakukan deteksi dini karena keturunan kanker biasanya memiliki bakat kanker, yaitu gen sel kanker,  yang dapat diturunkan. Di samping itu, beberapa faktor yang telah disebutkan diatas seperti usia lanjut dan keluhan merupakan alasan untuk melakukan pemeriksaan ini sedini mungkin.

Jadi, deteksi dini adalah salah satu cara ampuh, terutama bagi pasien muda dan memiliki faktor risiko, untuk mengetahui lebih awal penyakit kanker dan mencegah kanker pada tahap lanjut karena mengetahui lebih awal penyakit kanker dapat meningkatkan harapan hidup disamping menurunkan biaya pengobatan. Salah satu cara paling baik adalah melakukan pemeriksaan rutin secara teratur ke dokter atau rumah sakit dan melakukan tes skrining untuk mengetahui apakah kita berisiko kanker atau apakah kita sudah menderita penyakit keganasan ini namun kita pribadi tidak menyadarinya. Maka, cintailah diri sedini mungkin untuk mencapai hidup sehat selamanya.

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DOKTER

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DOKTER

Oleh: Anggy Afriani (0910313232)

Biro Kestari MRC 2011/2012

Permasalahan yang sering terjadi di masyarakat yaitu kebiasaan masyarakat membeli dan mengonsumsi antibiotik secara bebas tanpa resep dokter di warung atau di apotek apabila mereka demam. Hal ini terjadi karena masyarakat berpendapat bahwa biaya berobat ke dokter mahal dan obat yang diresepkan oleh  dokter  merupakan obat yang biasa diberikan kalau mereka pergi berobat dengan keluhan demam. Namun, masyarakat sendiri tidak mengetahui akibat dari pemakaian antibiotik yang sembarangan bagi tubuh mereka.

Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba,terutama jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain, seperti bakteri (Farrmakologi dan Terapi FKUI, 2009). Penggunaan terapeutik obat ini di klinik atau di pelayanan kesehatan bertujuan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi,  bukan infeksi yang disebabkan oleh virus.

Antibiotik merupakan obat untuk membasmi mikroba, obat ini bekerja dengan cara mengganggu metabolisme sel mikroba, menghambat sintesis dinding sel mikroba, mengganggu permeabilitas membran sel mikroba, menghambat sintesis protein sel mikroba, atau menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.

Dalam tujuaanya sebagai terapi, untuk memutuskan perlu-tidaknya pemberian antibiotik pada suatu infeksi, perlu diperhatikan berbagai faktor, antara lain perlu diperhatikan gejala yang timbul pada pasien, jenis dan patogenisitas mikrobanya,  kesanggupan sistem daya tahan tubuh dari pasien itu sendiri melawan infeksi, dan haruslah dipertimbangkan berdasarkan pengalaman dokter yang mengobati pasien.  Oleh karena itu, sangat penting penggunaan antibiotik harus sesuai dengan resep dokter.

Gejala demam yang umum dirasakan oleh pasien merupakan gejala sistemik penyakit infeksi paling umum, dan tidak selalu bisa dijadikan indikator untuk pemberian antibiotik. Demam dapat disebabkan oleh penyakit infeksi virus dan penyakit noninfeksi , yang pengobatannya tidak bisa disembuhkan dengan pemberian antibiotik atau bukan indikasi pemberian antibiotik.

Setelah dokter menetapkan perlu diberikan antibiotik pada pasien, dokter harus memilih jenis antibiotik yang tepat, serta menentukan dosis dan cara pemberiannya . Dalam memilih jenis antibiotik yang tepat harus dipertimbangkan faktor sensitivitas mikrobanya terhadap antibiotik, keadaan tubuh pasien, dan faktor biaya pengobatan. Hal tersebut perlu diperhatikan karena antibiotik merupakan golongan obat B, yaitu obat yang diberikan sesuai indikasi yang jelas dan terbatas penggunaanya.Selain itu, penggunaan antibiotik juga  dapat menimbulkan berbagai efek samping.

Efek samping penggunaan antibiotik dapat dikelompokkan menurut reaksi alergi, reaksi toksik, serta perubahan biologik dan metabolik pasien. Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan melibatkan semua sistem imun tubuh pasien, dan terjadinya tidak bergantung pada dosis obat sehingga sebelum pemberian antibiotik harus ada informasi apakah pasien ada alergi dengan obat atau untuk memastikannya dilakukan tes sensitifitas pada pasien terhadap antibiotik yang akan diberikan. Selain itu, antibiotik dapat menimbulkan reaksi toksik karena umumnya semua antibiotik kecuali penisilin sifatnya relatif toksik, misalnya golongan aminoglikosida pada umumnya bersifat toksik terhadap N. VIII, golongan tetrasiklin yang dapt menimbulkan gangguan pada pertumbuhan jaringan tulang, termasuk gigi sehingga tetrasiklin sekarang jarang dipakai. Adanya perubahan biologik dan metabolik pada tubuh pasien terjadi karena ketidakseimbangan lingkungan flora normal yang ada pada tubuh. Ketidakseimbangan disini maksudnya adalah  adanya penggunan antibiotik yang tidak diketahui jenis mikrobanya dapat mengganggu keseimbangan lingkungan mikroflora normal yang ada di tubuh sehingga terjadi peningkatan jumlah mikroflora yang dapat menjadi patogen. Gangguan keseimbangan ini dapat terjadi di saluran cerna, saluran napas, kelamin, dan kulit. Pada beberapa keadaan, hal ini bisa berlanjut kepada keadaan superinfeksi, yaitu infeksi baru yang ditimbulkan oleh mikroba yang dominan pertumbuhannya akibat penggunaan antibiotik yang tidak diketahui jenis mikrobanya (antibiotik spektrum luas).

Selain menimbulkan efek samping seperti yang telah dijelaskan di atas, penggunaan antibiotik secara bebas dapat menimbulkan resistensi. Resistensi adalah mikroba tahan terhadap antibiotik yang diberikan. Mekanisme terjadinya resistensi ini bisa berupa obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel mikroba, inaktivasi obat, atau mikroba mampu mengubah temap ikatan antibiotik. Hal ini terjadi karena penggunaan antibiotik yang sering, penggunaan antibiotik yang sering digunakan biasanya akan berkurang efektivitasnya, penggunaan antbiotik yang irasional, penggunaan antibiotik yang berlebihan, atau penggunaan antibiotik untuk jangka waktu lama.

Maka sudah jelas, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan antibiotik secara bebas atau sembarangan dan tanpa resep dokter dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh. Oleh karena itu, apabila mengalami demam sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter agar dokter bisa memutuskan apakah antibiotik perlu digunakan atau tidak untuk mengobati demam tersebut.

 

Sumber:

Staf Bagian Farmakologi FKUI. 2007. Farmakologi dan Terapi ed. 5 Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Jakarta: Gaya Baru

KHASIAT DAUN SELEDRI DALAM MENURUNKAN RISIKO HIPERURISEMIA

KHASIAT DAUN SELEDRI
DALAM MENURUNKAN RISIKO HIPERURISEMIA

KARYA TULIS ILMIAH
GAGASAN TERTULIS

Oleh:
DEPARTEMEN KADERISASI
MEDICALSTUDENT RESEARCH CENTER (MRC)
BEM KM FK UNAND

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2011

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hiperurisemia masih merupakan masalah kesehatan bagi Negara-negar berkembang di bagian tropis. Di Indonesia, khususnya di beberapa daerah, hiperurisemia menjadi penyakit yang sering diderita oleh sebagian besar penduduk. Kebiasaan konsumsi makanan yang kaya DNA seperti hati, limpa dan sebagainya membuat sebagian penduduk Indonesia usia 35 tahun ke atas menderita hiperurisemia (http://azzahrablog.wordpress.com/2010/05/27/asam­urat/, 2011).

Pengobatan hiperurisemia biasanya dengan menggunakan alopurinol yang berguna untuk menurunkan kadar asam urat. Obat ini bekerja dengan menghambat xantin oksidase, enzim yang mengubah hipoxantin menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat ( Tanu, 2009).

Namun demikian, alopurinol memiliki banyak efek samping. Efek samping yang bpaling sering terjadi adalah reaksi kulit. Bila kemerahan kulit timbul, obat harus segera dihentikan karena gangguan mungkin akan menjadi lebih berat. Reaksi alergi berupa demam, menggigil, leucopenia, eosinifilia, dan atralgia. Gangguan saluran cerna kadang-kadang juga dapat terjadi (Tanu, 2009). Masalah inilah yang mendorong penulis untuk mempelajari alternatif pengobatan hiperurisemia yang alami dan mudah ditemukan di lingkungan tropis Indonesia.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki banyak kekayaan alam berupa tanaman yang berkhasiat obat. Salah satunya adalah seledri. Berdasarkan banyak penelitian, seledri memiliki senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan yang banyak digunakan sebagai antikanker dan dapat menurunkan kadar asam urat darah.

Berdasarkan fakta tersebut, muncul gagasan pemanfaatan ekstrak flavonoid dari seledri sebagai salah satu alternatif mengobati hiperurisemia

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari karya tulis ilmiah ini adalah apakah flavonoid pada seledri dapat menurunkan risiko hiperurisemia?

  1. C.    Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui flavonoid pada seledri dapat menurunkan risiko hiperurisemia.

  1. D.  Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah memberikan informasi tentang manfaat daun seledri dalam menurunkan risiko penyakit hiperurisemia akibat tinggiya kadar asam urat dalam darah.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hiperurisemia

Hiperurisemia adalah istilah kedokteran yang mengacu kepada kondisi kadar asam urat dalam darah melebihi nilai normal yaitu lebih dari 7,0 mg/dl. Hiperurisemia dapat terjadi akibat meningkatnya produksi ataupun menurunnya pembuangan asam urat, atau kombinasi dari keduanya. Kondisi menetapnya hiperurisemia menjadi predisposisi (faktor pendukung) seseorang mengalami radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis), batu ginjal akibat asam urat ataupun gangguan ginjal (Hasan, 2011).

2.1. 1Penyebab Hiperurisemia

  1. Peningkatan produksi

Peningkatan produksi asam urat terutama bersumber dari makanan kaya akan DNA (dalam hal ini purin). Makanan yang kandungan DNAnya tinggi antara lain hati, timus, pankreas dan ginjal. Kondisi lain penyebab hiperurisemia adalah meningkatnya proses penghancuran DNA tubuh. Yang termasuk kondisi ini antara lain: leukemia, kemoterapi, dan kerusakan otot (Hasan, 2011).

  1. Penurunan pembuangan asam urat

Lebih dari 90% penderita hiperurisemia menetap mengalami gangguan pada proses pembuangan asam urat di ginjal. Penurunan pengeluaran asam urat pada tubulus ginjal terutama disebabkan oleh kondisi ph darah meningkat. Selain itu, penggunaan beberapa obat dapat berpengaruh dalam menghambat pembuangan asam urat.

  1. Kombinasi Keduanya

 

Konsumsi alkohol mempermudah terjadinya hiperurisemia, karena alkohol meningkatkan produksi serta menurunkan pembuangan asam urat. Beberapa minuman beralkohol contohnya bir, terkandung purin yang tinggi serta alkoholnya merangsang produksi asam urat di hati. Pada proses pembungan, hasil metabolisme alkohol menghambat pembungan asam urat di ginjal.

2.1.2 Komplikasi Hiperurisemia

1. Radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis)

Komplikasi hiperurisemia yang paling dikenal adalah radang sendi (gout). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sifat kimia asam urat cenderung berkumpul di cairan sendi ataupun jaringan ikat longgar. Meskipun hiperurisemia merupakan faktor risiko timbulnya gout, namun hubungan secara ilmiah antara hiperurisemia dengan serangan gout akut masih belum jelas. Atritis gout akut dapat terjadi pada keadaan konsentrasi asam urat serum yang normal. Akan tetapi, banyak pasien dengan hiperurisemia tidak mendapat serangan atritis gout (Hasan, 2011).

Gejala klinis dari Gout bermacam-macam yaitu: hiperurisemia tak bergej ala, serangan akut gout, serangan gout berulang, gout menahun disertai tofus.

Keluhan utama serangan akut dari gout adalah nyeri sendi yang amat sangat yang disertai tanda peradangan (bengkak, memerah, hangat dan nyeri tekan). Adanya peradangan juga dapat disertai demam yang ringan. Serangan akut biasanya puncaknya 1-2 hari sejak serangan pertama kali. Namun pada mereka yang tidak diobati, serangan dapat berakhir setelah 7-10 hari (Hasan, 2011). Serangan biasanya berawal dari malam hari. Awalnya terasa nyeri yang sedang pada persendian. Selanjutnya nyerinya makin bertambah dan terasa terus menerus sehingga sangat mengganggu.

 

Biasanya persendian ibu jari kaki dan bagian lain dari ekstremitas bawah merupakan persendian yang pertama kali terkena. Persendian ini merupakan bagian yang umumnya terkena karena temperaturnya lebih rendah dari suhu tubuh dan kelarutan monosodium uratnya yang berkurang. Trauma pada ekstremitas bawah juga dapat memicu serangan. Trauma pada persendian yang menerima beban berat tubuh sebagai hasil dari aktivitas rutin menyebabkan cairan masuk ke sinovial pada siang hari (Hasan, 2011).

Serangan gout akut berikutnya biasanya makin bertambah sesuai dengan waktu. Sekitar 60% pasien mengalami serangan akut kedua dalam tahun pertama, sekitar 78% mengalami serangan kedua dalam 2 tahun. Hanya sekitar 7% pasien yang tidak mengalami serangan akut kedua dalam 10 tahun.

Pada gout yang menahun dapat terjadi pembentuk tofi. Tofi adalah benjolan dari kristal monosodium urat yang menumpuk di jaringan lunak tubuh. Tofi merupakan komplikasi lambat dari hiperurisemia. Komplikasi dari tofi berupa nyeri, kerusakan dan kelainan bentuk jaringan lunak, kerusakan sendi dan sindrom penekanan saraf(Hasan, 2011).

2. Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal

Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal berupa batu ginjal, gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat meningkat pada suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana urin yang asam, kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk batu.

Gout dapat merusak ginjal, sehingga pembuangan asam urat akan bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai hasil dari penghancuran yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi tumor. Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat pengendapan asam urat pada duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Penumpukan jangka panjang dari kristal pada

 

ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal kronik (http://pengobatanasamurat.blogspot.com/2011 02 01 archive.html, 2011).

2.2 Katabolisme Purin

 

2.3 Seledri ( Apium graveolens)

Seledri (Apium graveolens L.) telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di Eropa sebagai unsur pengobatan dan penyedap masakan. Plinius Tua telah menuliskannya sejak awal penanggalan modern. Linnaeus mendeskripsikannya pertama kali dalam edisi pertama Species Plantarum. Ia memasukkan seledri dalam suku Umbelliferae, yang sekarang dinamakan Apiaceae (suku adas-adasan) (http://pikojogja.wordpress.com/2007/03/08/seledri-seharum-khasiatnya/, 2011).

Seledri adalah terna kecil, kurang dari 1m tingginya. Daun tersusun majemuk dengan tangkai panjang. Tangkai ini pada kultivar tertentu dapat sangat besar dan dijual sebagai sayuran terpisah dari daunnya. Batangnya biasanya sangat pendek. Pada kelompok budidaya tertentu membesar membentuk umbi, yang juga dapat dimakan. Bunganya tersusun majemuk berkarang, khas Apiaceae. Buahnya kecil-kecil berwarna coklat gelap.

Ada tiga kelompok seledri yang dibudidayakan:

  1. Seledri daun atau seledri iris (A. graveolens famili secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai di masakan Indonesia.
  2. Seledri tangkai (A. graveolens famili dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad.
  3. Seledri umbi (A. graveolens famili rapaceum), yang membentuk umbi di permukaan tanah; biasanya digunakan dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel.                  Umbi ini          kaya       provitamin            A         dan                      K
    (http://pikojogja.wordpress.com/2007/03/08/seledri-seharum-khasiatnya/).

2.3.1 Zat yang terkandung dalam seledri

Berdasarkan penelitian, tanaman keluarga Apiaceae ini mengandung natrium yang berfungsi sebagai pelarut untuk melepaskan deposit kalsium yang menyangkut di ginjal dan sendi. seledri juga mengandung magnesium yang berfungsi menghilangkan stres. Daun seledri mengandung protein, belerang, kalsium, besi,

 

fosfor, vitamin A, B 1 dan C. Berdasarkan hasil penelitian, seledri juga mengandung psoralen, zat kimia yang menghancurkan radikal bebas biang penyebab kanker (http://pikojogja .word press.com/2007/03/08/se led ri-seha rum­khasiatnya/, 2011)

Kandungan :

Seledri mempunyai banyak kandungan gizi antara lain, (per 100 gr):

  1. Kalori sebanyak 20 kalori
  2. Protein 1 gram
  3. Lemak 0,1 gram
  4. Hidrat arang 4,6 gram
  5. Kalsium 50 mg
  6. Fosfor 40 mg
  7. Besi 1 mg
  8. Vitamin A 130 SI
  9. Vitamin B1 0,03 mg
  10. Vitamin C 11 mg Dan 63% bagian dapat dimakan.
    1. Daun seledri juga banyak mengandung apiin, di samping substansi diuretik yang bermanfaat untuk menambah jumlah air kencing.
    2. Aromanya yang khas berasal dari sejumlah komponen mudah menguap dari minyak atsiri yang dikandung, paling tinggi pada buahnya yang dikeringkan.
    3. Kandungan utamanya adalah butilftalida dan butilidftalida sebagai pembawa aroma utama.
    4. Terdapat juga sejumlah flavonoid seperti graveobiosid A (1-2%)dan B (0,1 – 0,7%), serta senyawa golongan fenol.
    5. Komponen lainnya apiin, isokuersitrin, furanokumarin, serta isoimperatorin.
    6. Kandungan asam lemak utama dalah asam petroselin (40-60%).

 

17. Daun dan tangkai daun mengandung steroid seperti stigmasterol dan sitosterol (http://pikojogja.wordpress.com/2007/03/08/seled ri-seha rum­khasiatnya/,2011).

2.2.3 Seledri sebagai obat herbal

Seledri (Apium graveolens L.) sudah lama dikenal sebagai obat hipertensi. Tanaman yang juga terlihat cantik jika ditanam dalam pot ini lebih dulu dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Daun seledri biasa dipakai untuk memperkaya cita rasa sajian atau kaldu. Sup kacang merah dan bubur ayam kurang lengkap rasanya jika tanpa taburan daun seledri di dalamnya. Di Eropa, batang seledri yang besar sering dibuat sebagai salad dengan saus mayones atau bechamel (saus berbahan dasar susu) sebagai isi roti sandwich.

Tanaman yang sudah dikenal sejak sejarah awal Mesir, Yunani dan Romawi ini sebenarnya termasuk jenis sayuran yang diambil batangnya. Meski demikian dalam kesusastraan kuno terdapat dokumen yang menyebutkan seledri atau tanaman sejenisnya telah ditanam guna keperluan pengobatan sejak 850 Sebelum Masehi. Biji tanaman asli lembah sungai Mediterranian ini digunakan oleh tabib Ayurveda kuno untuk mengobati demam, flu, penyakit pencernaan, beberapa tipe arthritis, penyakit limpa dan hati.

Seledri (terutama buahnya) sebagai bahan obat telah disebut-sebut oleh Dioskurides serta Theoprastus dari masa Yunani Klasik dan Romawi sebagai “penyejuk perut”. Veleslavin (1596) memperingatkan agar tidak mengonsumsi seledri terlalu banyak karena dapat mengurangi air susu. Seledri disebut-sebut sebagai sayuran anti-hipertensi. Fungsi lainnya adalah sebagai peluruh (diuretika), anti reumatik serta pembangkit nafsu makan (karminativa) (http://pikojogja.wordpress.com/2007/03/08/seledri-seharum-khasiatnya/, 2011).

 

2.4 Flavonoid

Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, namun ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon. Antosianin (dari bahasa Yunani anthos , bunga dan kyanos, biru-tua) adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru. Pigmen ini juga terdapat di berbagai bagian tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis. Sebagian besar flavonoid terhimpun di vakuola sel tumbuhan walaupun tempat sintesisnya ada di luar vakuola (http://id.wikipedia.org/wiki/Flavonoid, 2011).

Antosianin dan flavonoid lainnya menarik perhatian banyak ahli genetika karena ada kemungkinan untuk menghubungkan berbagai perbedaan morfologi di antara spesies yang berkerabat dekat dalam satu genus misalnya dengan jenis flavonoid yang dikandungnya. Flavonoid yang terdapat di spesies yang berkerabat dalam satu genus memberikan informasi bagi ahli taksonomi untuk megelompokkan dan menentukan garis evolusi tumbuhan itu.

Cahaya khususnya panjang gelombang biru meningkatkan pembentukan flavonoid meningkatkan resistensi tanaman terhadap radiasi UV. Quercetin dan myricetin, merupakan jenis flavonoid yang melindungi sel Caco-2 yang terdapat pada saluran pencernaan dari oksidasi rantai ganda DNA dan bersifat antioksidan.

 

2.4.1 Aspek kimia flavonoid

 

2.4.2 Klasifikasi flavonoid

Skeleton

Functional

Group                                                   groups                                                               Examples

Description         3-         2,3- Structural formula

hydro dihyd
xyl         ro

 

 

Flavonol
or
3-
hydroxyflavo

ne

3-hydroxy‑
2-
phenylchro
men-4-one


Quercetin, Kaempferol, Myricetin, Fisetin, Isorhamnetin, Pachypodol,

 

Rhamnazin

2,3-dihydro‑
2-
phenylchro
men-4-one

 

Flavanonol

or
3-
Hydroxyflava
none

or
2,3-
dihydroflavon
ol

3-hydroxy-
2,3-dihydro-
2-
phenylchro
men-4-one


Taxifolin (or Dihydroquerce tin),

Dihydrokaemp ferol

 

 

BAB III
METODOLOGI

  1. A.  Pengambilan Data

Data yang diperoleh dalam karya tulis ini bersumber dari buku-buku teks kedokteran, bahan ajar, buku pendamping lainnya, maupun artikel yang bersumber dari internet.

  1. B.  Jenis Data

Data dalam karya tulis ini merupakan data dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain yang sumbernya kami lampirkan dalam daftar pustaka.

  1. C.  Pengolahan Data

Data dalam karya tulis ini diolah dengan analisis deskriptif kualitatif kemudian direduksi untuk memperoleh data yang akurat.

  1. D.  Analisis Data

Data dalam karya tulis ini dianalisis dari berbagai sumber berupa buku-buku teks kedokteran, bahan ajar, review artikel, buku pendamping lainnya, maupun artikel yang bersumber dari internet, dan kemudian ditarik suatu kesimpulan berdasarkan analisis yang telah dibuat.

 

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Flavonoid Sebagai Inhibitor Enzim Xantin Oksidase

Inhibitor xanthine oxidase adalah setiap zat yang menghambat aktivitas xanthine oksidase, enzim yang terlibat dalam metabolisme purin. Pada manusia, penghambatan xanthine oxidase mengurangi produksi asam urat, dan beberapa obat yang menghambat xanthine oxidase yang ditunjukkan untuk perawatan hyperuricemia dan kondisi medis terkait termasuk gout. Xanthine oksidase inhibitor yang. Sedang diselidiki untuk pengelolaan cedera reperfusi (Rahmadani, 2011).

Dalam percobaan, banyak produk alami telah ditemukan untuk menghambat xanthine oxidase secara in vitro atau pada hewan model (mencit, tikus). Tiga jenis flavonoid yaitu kaempferol, myricetin, dan quercetin termasuk dalam kategori inhibitor enzim xantin oksidase banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran terutama pada seledri. Secara umum, flavon dan flavonol planar dengan kelompok 7-hidroksil menghambat xanthine oxidase (Rahmadani, 2011).

 

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. Kesimpulan

  1. Seledri sebagai alternative penurun kadar asam urat darah karena mengandung zat flavonoid
  2. Flavonoid pada seledri dapat menjadi inhibitor enzim xantin oksidase yang mengkatalisis xantin menjadi asam urat.

5.2 Saran

  1. Masyarakat Indonesia sebaiknya mengonsumsi seledri dengan teratur sebagai salah satu cara untuk menjaga tubuh dari risiko hiperurisemia dengan cara yang efisien, inovatif, dan efektif serta mudah untuk diterapkan.
  2. Penulis juga berharap agar penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana seledri dapat menurunkan resiko penyakit gout melalui penurunan kadar lipid serum dan tekanan darah dapat dilakukan oleh peneliti lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

+DsDT.            CLE1        3 * ejDlD                                             CDT       . RP %NDsi         $ sDP       8 rDtM

http://mha5an.wordpress.com/2008/10/19/gejala-dan-komplikasi-asam-urat/. diakses        pada             Kamis,17 Maret 2011: 18:35:45).

Rahmadani, Rizal Umar. 2LE1. 3Activity of Syzigium aqueum (Burm.F) Alst.

l IaY Is I.1 TEac TI RQ uTIFTFIGIl Iv IEFQ p R TassiuY R.1 RQa T I IQGuc IG mIc II Disertasi Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.

Tanu, Ian. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi-5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

http://azzahrablog.wordpress.com/2010/05/27/asam-urat, 2011 diakses             pada

Kamis,17 Maret 2011: 18:17:45).

(http://pengobatanasamurat.blogspot.com/2011 02 01 archive.html, 2011). (http://pikojogja.wordpress.com/2007/03/08/seledri-seharum-khasiatnya/, 2011). (http://id.wikipedia.org/wiki/Flavonoid, 2011).

HIPERTENSI PADA ANAK, MUNGKINKAH???

HIPERTENSI PADA ANAK

MUNGKINKAH???

Oleh: Syntia Ambelina (0910312079)

Departemen Ilmiah MRC 2011/2012

Hipertensi atau lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi untuk kita dengar sehari-hari. Penyakit ini bahkan sudah dianggap biasa jika diderita oleh orang tua yang berusia lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, apabila hipertensi diderita oleh anak-anak yang belum mencapai usia 18 tahun mungkinkah?

Ternyata, apabila kita teliti lebih lanjut hipertensi tidak hanya dapat diderita oleh orang dewasa saja, tetapi juga dapat diderita oleh anak-anak bahkan bayi sekalipun dan dapat mengancam jiwa mereka hingga menimbulkan kematian. Apabila tidak mendapat penanganan yang tepat, diperkirakan 2/3 anak dengan hipertensi akan menderita penyakit kerusakan ginjal nantinya.1

Sebelum mengulas lebih lanjut mengenai hipertensi pada anak, ada baiknya kita mengenal apa itu hipertensi terlebih dahulu. Hipertensi pada anak adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik dan atau diastolik anak > persentil 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit dalam 3 kali pengukuran berturut-turut.2

Seorang anak yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi, terlahir dengan berat badan rendah, tetapi kemudian mengalami kelebihan berat badan (obesitas), menderita penyakit jantung bawaan, kurang aktivitas fisik, gemar mengonsumsi garam, lemak, dan gula berlebihan, memiliki risiko terkena penyakit hipertensi yang cukup besar.1

Hipertensi yang terjadi pada anak dapat dibedakan menjadi dua yaitu: hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau essensial adalah suatu peningkatan tekanan darah yang etiologi atau penyakit yang mendasarinya tidak diketahui. Namun, faktor seperti keturunan, asupan garam, dan obesitas dapat memainkan peran dalam hipertensi essensial. Sedangkan hipertensi sekunder adalah suatu peningkatan tekanan darah yang etiologinya diketahui. Penelitian membuktikan bahwa 80% hipertensi pada anak  merupakan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit ginjal, seperti gromerulonefritis, pielonefritis kronis, dan kurang lebih 25-50% mempunyai riwayat infeksi traktus urinarius.1

Patofisiologi hipertensi pada penyakit ginjal dapat disebabkan oleh hipervolemia, gangguan sistem renin, angiotensin, dan aldosteron, serta berkurangnya zat vasodilator.2

Hipervolemia disebabkan karena retensi air dan natrium, efek ekses mineralokortikoid terhadap peningkatan reabsorpsi natrium dan air di tubuli distal. Hipervolemia menyebabkan curah jantung meningkat dan mengakibatkan hipertensi. Keadaan ini sering terjadi pada glomerulonefritis dan gagal ginjal.2

Renin adalah enzim yang diekskresikan oleh sel aparatus juksta glomerulus. Apabila terjadi penurunan  aliran darah intrarenal dan penurunan laju filtrasi glomerulus, aparatus juksta glomerulus akan terangsang untuk mensekresikan renin yang akan mengubah angiotensinogen yang berasal dari hati menjadi angiotensin I. Kemudian angiotensin I oleh angiotensin converting enzym diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah tepi dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Selanjutnya, angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan aldosteron. Aldosteron meningkatkan retensi natrium dan air di tubuli ginjal, dan menyebabkan tekanan darah meningkat.2

Zat vasodilator yang dihasilkan oleh medula ginjal adalah prostaglandin A2, kilidin, dan bradikinin. Seorang anak yang menderita penyakit ginjal kronik memiliki kadar zat vasodilator yang lebih sedikit daripada  anak yang normal. Berkurangnya kadar zat vasodilator ini berperan penting dalam patofisiologi hipertensi ginjal.2

Anak yang menderita hipertensi derajat ringan atau sedang umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, dari berbagai penelitian yang dilakukan, kebanyakan anak yang menderita hipertensi tidak sepenuhnya bebas dari gejala. Gejala non spesifik berupa nyeri kepala, insomnia, rasa lelah, nyeri perut atau nyeri dada dapat dikeluhkan. Sedangkan pada keadaan hipertensi berat yang bersifat mengancam jiwa atau menggangu fungsi organ vital dapat timbul gejala nyata yang sangat bervariasi, seperti sakit kepala, pusing, nyeri perut, muntah, gangguan penglihatan, nafsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, sesak nafas, nyeri dada dan keringat berlebihan, serta tumbuh kembang yang terganggu. Sedangkan komplikasi utama hipertensi pada anak melibatkan sistem saraf pusat, mata, jantung, dan ginjal.3

Diagnosa hipertensi pada anak baru dapat ditegakkan apabila setelah dilakukan pengamatan selama beberapa minggu tekanan darah anak tetap tinggi, diatas persentil 95, atau ditemukan gejala hipertensi sekunder.1

Apabila diagnosa hipertensi pada anak telah ditegakkan, maka perlu dilakukan penatalaksanaan sedini mungkin. Penatalaksanaan hipertensi pada anak ditujukan pada penyebab naiknya tekanan darah dan mengurangi gejala. Penatalaksanaan dapat berupa terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi.3

Terapi nonfarmakologi dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Terapi ini meliputi pengendalian berat badan, olahraga teratur, serta melakukan intervensi diet pada anak. Pengurangan berat badan telah terbukti efektif pada anak yang mengalami obesitas dan disertai hipertensi. Mengendalikan berat badan tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi juga menurunkan sensitivitas tekanan darah terhadap garam, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi tekanan darah kurang dari persentil 95.3

Olahraga teratur dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Olahraga minimal dilakukan selama 30-60 menit per hari. Intervensi diet pada anak dapat berupa peningkatan diet sayuran dan buah segar, makanan rendah lemak, serta konsumsi garam yang terkontrol yaitu hanya 1,2 g/hari (anak 4-8 tahun)  dan 1,5 g/hari untuk anak yang lebih besar untuk membantu manajemen hipertensi. Pengurangan garam pada anak dan remaja disebutkan dapat mengurangi tekanan darah sebesar 1 sampai 3 mmHg.3

Terapi farmakologi baru diberikan apabila ditemukan keadaan hipertensi yang mengakibatkan kerusakan organ target pada anak, seperti hipertrofi ventrikel kiri, retinopati, proteinuria, hipertensi sekunder, dan hipertensi primer yang tidak respon dengan perubahan gaya hidup. Apabila terdapat kerusakan organ target atau terdapat penyakit yang mendasari maka tujuan terapi adalah untuk mengurangi tekanan darah kurang dari persentil 90. Dalam memilih terapi farmakologi harus dipertimbangkan efikasi ketersediaan obat, frekuensi pemberian, efek samping, serta biaya yang harus dikeluarkan.3

Sebenarnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko hipertensi pada anak, seperti memberikan ASI esklusif pada bayi hingga usia 6 bulan, mengubah pola makan anak apabila menderita obesitas atau hasil diagnosis menunjukkan hipertensi, serta melakukan program penurunan berat badan apabila anak telah mengalami obesitas.1

Apabila hipertensi pada anak tidak ditangani dengan baik, kemungkinan terjadinya komplikasi pada organ tubuh lain sangat besar, seperti pembengkakan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, gangguan penglihatan, sampai kebutaan.1

Itulah mengapa beberapa ahli dan organisasi hipertensi internasional menganjurkan agar anak-anak yang telah berusia di atas 3 tahun melakukan pengukuran tekanan darah sekali setahun secara teratur untuk mengetahui ada tidaknya hipertensi agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Sehingga komplikasi yang tidak diinginkan seperti pembengkakan jantung, gagal ginjal, gangguan saraf, dan kebutaan dini pada anak kita sebagai generasi penerus bangsa dapat dihindari.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sanif, M. Edial. 2009. Hipertensi pada Anak. Diunduh dari: http://www.jantunghipertensi.com/hipertensi/79.html. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.05.
  2. Noer, M. Sjaifullah, Ninik Soemyarso. 2006. Hipertensi. Diunduh dari: http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-hrji262.htm. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.10.
  3. Supartha, Made, I Ketut Suarta, Ida Bagus Agung Winaya. 2009. Hipertensi pada Anak. Diunduh dari: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/59509221231.pdf. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.00.

 

EFEKTIVITAS KERJA PADA SAAT MENDERITA INFLUENZA

EFEKTIVITAS KERJA PADA SAAT MENDERITA INFLUENZA

Oleh : Alania Rosari (0910312070)

Biro Infokom MRC 2011/2012

             Manusia memerlukan kondisi tubuh yang sehat untuk dapat mengerjakan aktivitas sehari-hari dengan baik. Kondisi tubuh yang sehat tersebut bisa diperoleh dengan  melakukan istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan memakan makanan yang bernutrisi.  Namun, ketika seseorang tidak bisa menjaga kesehatannya, tubuh akan mudah terserang penyakit. Penyakit itu dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan kuman. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu influenza.

Influenza adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan demam, hidung meler, sakit kepala, batuk, tidak enak badan (malaise), dan peradangan pada selaput lendir hidung serta saluran pernafasan. Seseorang bisa terkena influenza ketika sistem kekebalan tubuhnya sedang menurun.

Influenza dapat disebabkan oleh virus influenza tipe A atau tipe B.
Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin dan melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, dan ingus) penderita. Gejala influenza dapat timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba.

Petunjuk awal dari influenza biasanya tubuh yang kedinginan. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam. Suhu tubuh bisa mencapai 38,9-39,4o Celsius. Banyak penderita influenza yang tidak dapat mengerjakan aktivitas di luar rumah seperti ke kantor atau ke sekolah karena merasa tubuhnya sakit dan harus istirahat di tempat tidur. Mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di bagian punggung dan tungkai. Mereka seringkali merasakan sakit kepala yang bersifat berat dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Apabila mereka beraktivitas di luar rumah, cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala.

Penderita influenza tidak dapat melakukan aktivitas kerja yang berat karena mengalami gangguan saluran pernafasan ringan berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering, dan hidung berair. Aktivitas di luar rumah akan mempermudah penderita berkontak dengan udara yang tidak bersih dan memperburuk kondisi saluran pernafasannya. Kemudian akan timbul batuk yang parah dan berdahak. Pada anak-anak terkadang bisa terjadi mual dan muntah.

Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari.
Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih dan diperlukan waktu 6-8 minggu untuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan.

Pengobatan influenza yang utama adalah istirahat yang cukup dengan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan, dan menghindari kelelahan. Hal ini disebabkan karena aktivitas kerja yang terlalu dipaksakan dapat memperburuk keadaan penderita. Penderita yang memaksakan aktivitas pada kondisi terserang influenza tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Penderita merasakan sakit kepala yang mengganggu konsentrasi dan efektivitas kerja. Istirahat dan berbaring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal.

Penularan influenza dapat dicegah. Cara yang paling mudah yaitu dengan menghindari kontak dengan penderita influenza karena virus dapat ditularkan melalui air liur yang terinfeksi pada saat penderita batuk atau bersin. Seseorang yang pernah terkena virus influenza akan membentuk antibodi yang melindunginya terhadap infeksi ulang oleh virus tertentu. Namun, cara terbaik untuk mencegah terjadinya influenza adalah vaksinasi yang dilakukan setiap tahun.

Vaksin influenza mengandung virus influenza yang tidak aktif (dimatikan) atau partikel-partikel virus. Suatu vaksin bisa bersifat monovalen (1 spesies) atau polivalen (biasanya 3 spesies). Vaksin monovalen bisa diberikan dalam dosis tinggi untuk melawan suatu jenis virus yang baru, sedangkan vaksin polivalen menambah pertahanan terhadap lebih dari satu jenis virus.

Amantadin atau rimantadin merupakan 2 obat anti-virus yang bisa melindungi terhadap influenza A saja. Obat ini digunakan selama wabah influenza A untuk melindungi orang-orang yang kontak dengan penderita dan orang yang memiliki resiko tinggi (orang yang belum menerima vaksinasi). Pemakaian obat bisa dihentikan dalam waktu 2-3 minggu setelah menjalani vaksinasi. Jika tidak dapat dilakukan vaksinasi, maka obat diberikan selama terjadi wabah, biasanya selama 6-8 minggu. Obat ini bisa menyebabkan gelisah, sulit tidur, dan efek samping lainnya, terutama pada usia lanjut dan pada penderita kelainan otak atau ginjal.

Efektivitas kerja pada saat menderita influenza tidak dapat tercapai karena tubuh dalam kondisi tidak sehat. Influenza dapat mengganggu konsentrasi saat bekerja karena penderita mengalami demam, sakit kepala, nyeri pada beberapa bagian tubuh, dan gangguan saluran pernapasan. Istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas kerja yang berat merupakan cara ampuh untuk memulihkan kondisi penderita influenza. Meminum obat yang diberikan oleh dokter sesuai ketentuan juga dapat mempercepat pemulihan.

Oleh karena itu, jagalah kondisi tubuh agar selalu sehat dan optimal, sehingga terhindar dari influenza dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Efektivitas kerja yang baik akan mudah didapatkan ketika tubuh dalam kondisi yang baik pula.

GIZI BERLEBIH PADA ANAK, PENYEBAB DAN DAMPAKNYA

GIZI BERLEBIH PADA ANAK, PENYEBAB DAN DAMPAKNYA

  OBESITAS KARENA KESALAHAN POLA ASUH, MENGGANGGU PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK

Dewasa ini, obesitas pada anak telah menjadi topik pembicaraan masyarakat dunia. Di negara maju seperti Amerika Serikat misalnya, Presiden Barrack Obama bahkan telah menandatangani Healthy Hunger-Free Kids Act pada tanggal 13 Desember 2010 sebagai undang-undang untuk memerangi masalah gizi berlebih pada anak tersebut. Akan tetapi kesadaran seperti ini belum menjadi perhatian sebagian besar penduduk Indonesia. Kebanggaan memiliki anak berbadan gemuk masih mengakar di benak sebagian orang tua. Padahal, obesitas memiliki pengaruh buruk tidak hanya di sisi pertumbuhan anak, tetapi juga pada perkembangan psikologis mereka. Hal ini disebabkan karena efek pola asuh yang tidak tepat dan kesadaran orang tua yang minim, sehingga berdampak pada kebiasaan hidup anak yang buruk dan selanjutnya akan menjadi masalahan psikologis yang berkelanjutan.

  OBESITAS KARENA KESALAHAN POLA ASUH,

MENGGANGGU PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK

Oleh: Syandrez Prima Putra (0910311020)

Biro Danus MRC 2011/2012

 Menurut definisi yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO), obesitas atau kegemukan adalah ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi lemak pada tubuh yang menimbulkan resiko bagi kesehatan. Ukuran kuantitatif dalam penentuan obesitas dapat ditentukan melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dinilai berdasarkan berat dan tinggi badan seseorang. Untuk anak usia sampai 18 tahun, pengukuran IMT dapat dilakukan dengan melihat kurva IMT pada Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dapat diperoleh melalui Posyandu dan tempat pelayanan kesehatan lainnya. Seorang anak dikatakan obesitas apabila IMT-nya berada di atas presentil 95.

Prevalensi obesitas pada anak baru-baru ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 1980, angka kejadian obesitas anak usia 6-11 tahun di Amerika Serikat sekitar 6,5% dan meningkat menjadi 19,6% di tahun 2008. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010, rata-rata prevalensi obesitas pada anak di Indonesia adalah sekitar 14%, dan Provinsi DKI Jakarta tercatat memiliki prevalensi tertinggi, yakni 19,2%.

Obesitas pada anak merupakan permasalahan multifaktorial yang terutama disebabkan oleh asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan harian mereka. Hal ini berkaitan dengan pola makan yang berlebih dan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung kalori yang tinggi. Selain itu, gaya hidup yang malas (sedentary lifestyle) dan minimnya aktivitas fisik sehari-hari juga menjadi penyebab utama obesitas pada anak. Meskipun demikian, faktor genetik, hormonal dan kondisi sosio-ekonomi keluarga dan lingkungan juga turut mempengaruhi, demikian juga dengan efek perawatan medis, meskipun kejadiannya cukup langka. Akan tetapi, faktor diet dan sedentary lifestyle masih menjadi penyebab utama.

Pola asuh orang tua semenjak usia dini berkaitan sangat erat dengan penyebab utama obesitas pada anak. Hal ini berhubungan karena pendidikan dan pengajaran orang tua adalah informasi awal bagi anak usia dini untuk mulai menerapkan kebiasaan hidup mereka, termasuk kebiasaan makan dan beraktivitas. Pola asuh yang bersifat permisif sesuai definisi Baumrid (1967) adalah pola yang paling rentan dengan hal tersebut. Orang tua yang memiliki pola asuh demikian akan memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung untuk tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. Bimbingan yang diberikan juga sedikit. Orang tua dengan pola asuh demikian akan memenuhi segala permintaan sang anak sehingga mereka terlihat hangat dan disukai oleh anak.

Pola asuh permisif yang diterapkan orang tua kepada anak akan mendidik anak untuk menjadi manja dan cenderung mendikte orang tua. Kebiasaan ini juga akan berpengaruh pada pola makan sehari-hari. Anak akan bebas memilih makanan sesuai dengan keinginannya, sehingga resiko anak untuk mengonsumsi makanan serba enak yang cenderung tinggi kalori akan lebih tinggi. Hal ini diperparah dengan maraknya penyediaan makanan cepat dan siap saji tinggi kalori di pasaran dewasa ini. Apalagi jika orang tua berasumsi bahwa memiliki anak yang lahap dan berbadan gemuk adalah suatu prestasi yang layak dibanggakan. Apabila hal tersebut tidak diikuti dengan penetapan waktu makan yang terjadwal dan teratur, maka dikhawatirkan anak akan mengonsumsi lebih banyak kalori dari pada yang dibutuhkan.

Selain pola makan, pola asuh yang permisif juga akan mempengaruhi kebiasaan anak dalam beraktivitas. Kurangnya peranan orang tua untuk membatasi kebiasaan “malas bergerak” pada anak misalnya menonton televisi ataupun bermain game di depan komputer berjam-jam akan mengurangi kesempatan anak untuk bergerak dengan bebas. Akibatnya kalori yang ada di dalam tubuh tidak dibakar menjadi energi sehingga disimpan menjadi cadangan lemak tubuh. Jika hal ini telah menjadi rutinitas, maka akan terjadi penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh yang berujung kepada obesitas.

Obesitas sangat berdampak buruk bagi kesehatan anak. Anak yang mengalami obesitas akan beresiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa. Implikasi klinis lainnya yang menghawatirkan adalah meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus, serta penyakit-penyakit terkait gangguan metabolik seperti resistensi insulin dan dislipidemia. Resiko lainnya adalah terjadinya abnormalitas fungsi sistem organ seperti respirologi (sesak nafas), neurologi, muskuloskeletal, dan hepatologi. Penyakit-penyakit semacam itu tentu akan menurunkan kualitas hidup anak dan akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan fisik anak.

Selain pertumbuhan fisik, obesitas pada anak juga akan berdampak buruk pada perkembangan psikologis mereka. Berdasarkan penelitian terhadap 1.520 anak usia 9-10 tahun, terdapat korelasi positif antara obesitas dengan penurunan rasa percaya diri. Dari sekian anak yang mengalami obesitas, 19% diantaranya mengalami perasaan sedih, 48% mengalami kebosanan, dan 21% merasa gugup. Sebagai perbandingannya, anak-anak dengan tubuh normal, 8% diantaranya mengalami perasaan sedih, 42% mengalami kebosanan, dan 12% merasa gugup. Hasil tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dengan obesitas memiliki peningkatan resiko mengalami gangguan psikologis.

Obesitas pada anak yang berkaitan dengan pola asuh permisif yang diterapkan oleh orang tua erat kaitannya dengan pembentukan karakter dari anak itu sendiri. Kebiasaan dalam pola makan melebihi kebutuhan dan pola aktivitas yang sedentary yang diterapkan sejak kecil tanpa pengawasan yang baik dari orang tua akan terbawa sampai anak beranjak ke usia dewasa. Hal ini dapat diakibatkan karena tubuh telah beradaptasi dengan kebiasaan tersebut dan sulit untuk diubah. Hal semacam ini secara tidak langsung telah mempengaruhi perkembangan psikologi seorang anak.

Selain itu, gangguan pada perkembangan psikologi anak akan semakin meningkat di saat memasuki usia sekolah. Tuntutan pergaulan tentunya akan berimplikasi langsung terhadap kesiapan mental anak dalam berinteraksi secara sosial ditengah kondisi fisik yang kurang mendukung. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A menjelaskan bahwa efek psikologis karena obesitas berdampak negatif pada anak, dimana mereka rentan dengan kondisi depresi dan terisolasi dari lingkungan. Bahkan menurut Zametkin, dalam bukunya Academic Child Adoles Physhiatry, menjelaskan bahwa depresi yang ditimbulkan dari obesitas membuat anak mempunyai keinginan dan melakukan percobaan bunuh diri.

Jadi, obesitas pada anak dapat disebabkan oleh kesalahan pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anak sejak dini, sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan psikologis mereka. Pola asuh yang bersifat permisif akan menimbulkan pola diet berlebihan dan sedentary lifestyle, dimana keduanya adalah penyebab utama dari obesitas. Pola yang demikian itu akan menjadi kebiasaan anak hingga dewasa yang sulit diubah. Jika hal ini terus berlanjut hingga usia sekolah, pertumbuhan anak akan terganggu dan anak akan mengalami penurunan rasa percaya diri serta kesulitan dalam berinteraksi secara sosial. Hal tersebut akan membuat anak rentan mengalami depresi dan komplikasi psikologis yang berkelanjutan.

 DAFTAR PUSTAKA

Candra, A., Bramirus, M. 2011. http://health.kompas.com/read/2011/04/20/1700420/Gizi.Lebih.Ancaman.Tersembunyi.pada.Anak. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 15:56 WIB.

http://en.wikipedia.org/wiki/Childhood_obesity. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 11:15 WIB.

http://kidshealth.org/parent/general/body/overweight_obesity.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 10:40 WIB.

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/02/macam-macam-pola-asuh-orang-tua.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 14:05 WIB.

http://www.buzzle.com/articles/child-obesity-statistics-in-america2011.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 15:37 WIB.

http://www.emedicinehealth.com/obesity_in_children/page2_em.htm. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 12:09 WIB.

http://www.who.int/topics/obesity/en/. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 11:54 WIB.

Wahyuningsih, Renny. 2010. http://www.detikfood.com/read/2010/12/17/133816/1527202/294/perangi-obesitas-anak-obama-bikin-uu. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 10:58 WIB.

Wicaksono, Dipo. 2011. http://today.co.id/read/2011/04/20/26440/obesitas_berdampak_negatif_bagi_psikologis_anak. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 19:23 WIB.

Yussac, Muhammad Artisto Adi, dkk. 2007. Prevalensi Obesitas pada Anak Usia 4-6 Tahun dan Hubungannya dengan Asupan Serta Pola Makan. Majalah Kedokteran Indonesia. LVII (2): 47-53.

 

Materi Latdas 1

Silahkan di click dan download🙂

1 Brainstorming

2 KTI GT

3 Artikel Ilmiah

   contoh artikel ilmiah – prof.in

4 Essay Ilmiah4.2 contoh essay – thesa a.

   contoh essay – thesa a.

   contoh essay – eka f.

Visi dan Misi Ketua Umum MRC 2011-2012

VISI DAN MISI KETUA UMUM MRC BEM KM FK UNAND 2011-2012
MUHAMMAD HELRI ARIF
VISI
Membangun MRC yang mampu bekerjasam dengan solid dan bersemangat, untuk mewujudkan MRC yang kreatif dan prestatif, sehingga dapat berkontribusi dan mengharumkan nama fakultas dan universitas.
MISI
  • Mengokohkan internal dan eksternal MRC sehingga mampu mengadakan kegiatan, mulai skala fakultas hingga nasional nantinya.
  • Meningkatkan rasa memiliki MRC melalui kegiatan-kegiatan yang diangkatkan anggota dan pengurus MRC.
  • Meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota dan pengurus MRC sehingga timbul kedekatan dan rasa kekeluargaan yang erat.
  • Mengadakan beberapa kegiatan “surprise”  demi berkembangnya kegiatan MRC, serta mempererat hubungan antar anggota dan pengurus.
  • Mendapatkan pengakuan, tidak hanya pengakuan keberadaan MRC, tetapi juga pengakuan menyuluruh sebagai satu-satunya UKM di bidang imiah dan penelitian, melalui pembuktian diri dengan melahirkan karya-karya di bidang ilmiah dan penelitian.

Visi dan Misi MRC 2011-2012: Kreatif dan Prestatif!

VISI DAN MISI MRC BEM KM FK UNAND 2011-2012: KREATIF DAN PRESTATIF!
VISI
Menjadi unit kegiatan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang mewujudkan generasi kreatif dan prestatif di bidang ilmiah dan penelitian
MISI
  • Mengembangkan kreatifitas mahasiswa dalam kegiatan ilmiah melalui pelatihan karya tulis ilmiah dan proposal penelitian, kegiatan penulisan karya ilmiah, serta pelaksanaan penelitian.
  • Memfasilitasi mahasiswa agar mampu berprestasi dalam penulisan karya tulis ilmiah dan pelaksanaan penelitian melalui pembentukan, pelatihan, dan pembimbingan kelompok penelitian.
  • Melakukan penelitian di segala aspek ilmu pengetahuan terutama kedokteran.
  • Melaksanakan kegiatan keilmiahan yang melibatkan komponen dari masyarakat sembari melaksanakan pengabdian masyarakat yang berhubungan dengan transfer ilmu, penemuan baru, dan penelitian terhadap masalah di masyarakat.

Proker Infokom MRC 2011-2012

proker infokom

Salah satu program kerja infokom adalah pembuatan blog MRC yang alhamdulillah sudah dapat dilaksanakan. Hal ini dilatar belakangi berdasarkan perkembangan online-communityyang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif publikasi. Adapun tujuan dari pengelolaan Blog MRC dan kolom MRC di website BEM secara kontinu untuk memperluas jaringan MRC sekaligus memperkenalkan MRC ke masyarakat kampus terutama Unand dan menjadi salah satu sumber informasi seputar MRC dan informasi ilmiah lainnya dimana yang menjadi sasaran adalah Civitas akademika FK Unand khususnya, Universitas lain umumnya, dan alumni MRC.