DETEKSI DINI KANKER

AWAL KESEMBUHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Oleh: M. GAMAL EDDIN (0910313198)

Dari beberapa kasus di Rumah Sakit, pasien kanker datang ke dokter untuk melakukan pemeriksaan sudah berada dalam tahap lanjut. Pasien biasanya berusia lanjut dan mengalami gejala utama berupa benjolan abnormal pada daerah tubuh tertentu dengan manifestasi sistemik tumor. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosis bahwa pasien  menderita tumor dan sudah berada dalam tahap lanjut. Pasien mempunyai harapan hidup pendek dan survival year <5 tahun. Selain itu, beberapa kanker mempunyai prognosis buruk bagi pasien seperti, karsinoma hepatoseluler, kanker kolorektal, dan kanker pankreas apalagi jika sudah berada dalam tahap lanjut. Meski telah dilakukan terapi, baik bersifat  lokal maupun sistemik, masih berisiko untuk tidak mencapai remisi dan dapat eksaserbasi. Penanganan kanker stadium lanjut juga mempunyai dampak buruk lainnya seperti, dari pasien sendiri, biaya pengobatan tinggi dan dan pengobatan jangka waktu yang cukup lama. Kanker stadium terminal merupakan penyebab penyakit ini tak dapat disembuhkan lagi dan menyebabkan kematian. Maka salah satu tindakan atau usaha untuk mencegah penyakit ini seawal mungkin untuk menjadi stadium lanjut yaitu dengan melakukan deteksi dini kanker dan beberapa usahanya, salah satunya, yaitu skrining kanker.

Kanker adalah suatu penyakit keganasan atau neoplasma yang menyerang suatu sel sehingga sel tersebut mengalami kelainan atau mutasi. Penyebab kanker sebagian besar adalah adanya gen abnormal pada sel sehingga mengalami mutasi. Sel yang mempunyai gen abnormal yang berpotensi menjadi sel kanker disebut onkogen yang mempunyai kemampuan berproliferasi cepat, menyerang jaringan lain, dan dapat menyebar ke jaringan lain secara sistemik melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening yang disebut metastasis sel kanker.

Tumor dapat diklasifikasikan 2 jenis yaitu, benigna tumor (tumor jinak) dan maligna tumor (tumor ganas) beserta sifat dari kedua jenis tumor tersebut. Tumor jinak berdiferensiasi baik dengan sifatnya tidak ada/ sangat jarang metastasis ke organ lain sedangkan tumor ganas mempunyai sifat diferensiasi buruk dengan pambelahan sel yang sangat cepat, menginfiltrasi/ menginvasi jaringan lain, dan metastasis ke organ lain. Maka, deteksi dini dilakukan untuk mencegah diferensiasi dan pertumbuhan tumor, baik tumor jinak maupun ganas, sehingga dapat memutus perjalanan penyakit seawal dan sebaik mungkin.

Kanker adalah penyakit keganasan sel yang dapat “beranak pinak” sehingga dapat mengenai keturunan yang bersifat ganas pula. Bakat pewarisan keturunan ini diturunkan secara fenotip yaitu “apa yang dapat dilihat dari individu tersebut” dan merupakan pewarisan dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Apabila dalam satu keluarga memiliki gen kanker maka, keturunan dibawahnya dapat mewarisi sifat gen kanker keluarga tersebut.

Kebanyakan kanker, khususnya stadium lanjut, menyebabkan kematian terutama di negara berkembang sebagian besar akibat dari pasien itu sendiri. Penderita kanker memeriksakan diri jika sudah mengalami gejala yang berat dan menganggu aktivitas misalnya nyeri pada benjolan, perdarahan abnormal, demam, ikterus, dan berat badan turun akibat nafsu makan menurun. Hal ini merupakan manifestasi sitemik dari kanker stadium lanjut. Padahal kanker merupakan penyakit dengan laju pertumbuhan yang relatif cepat dan insiden meningkat seiring bertambahnya usia.

Penderita kanker dapat mencapai harapan kesembuhan tinggi apabila melakukan diagnosis secara dini dan upaya medis untuk mencegah agar penyakit tersebut tidak menimbulkan gejala yang lebih berat. Diagnosis dini adalah mengetahui penyakit lebih awal sebelum gejala klinik tampak sehingga dapat diatasi sedini mungkin. Dengan mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada penderita tumor maka, perjalanan penyakit kanker ini diharapkan mencapai remisi dari waktu ke waktu.

Dengan mengetahui penyakit ini seawal mungkin maka, dapat  mencegah timbulnya manifestasi lanjut sehingga manfaat terapi dengan operasi diharapkan operasi yang invasif minimal. Disamping itu, diharapkan teknik operasi yang rasional sehingga risiko dan efek samping dapat diperkecil dalam pengobatan suatu tumor seperti pada karsinoma esofagus, gaster, dan kolon biasanya berifat multifokal dan sedapat mungkin diperluas agar tidak timbul residif sel tumor pascaterapi.

Kanker adalah salah satu penyakit yang dalam pemeriksaan untuk penegakan diagnosis dan pemberian terapi memerlukan biaya tinggi misalnya, pemeriksaan penunjang pencitraan Magnetic Resonance Imaging (IMR) dan didukung juga teknologi pencitraan tumor tingkat tinggimasih belum banyak digunakan, walaupun teknologi pemeriksaan kanker telah mengalami peningkatan pesat. Selain itu, pemberian terapi kanker juga berisiko tinggi dan tidak jarang dapat menimbulkan komplikasi seperti efek samping pasca operasi pengangkatan tumor, terapi radiasi tumor yang sering menimbulkan asma dan alergi, dan pemberian obat antitumor yang bersifat toksik.

Dari berbagai penelitian, sekitar 1/3 kasus kanker dapat disembuhkan jika ditemukan dan diterapi secara dini. Deteksi dini adalah salah satu modalitas pencegahan kanker stadium lanjut dengan salah satu usahanya yang dapat dilakukan yaitu skrining kanker. Modalitas di sini adalah salah satu tindakan awal dalam pencegahan kanker stadium lanjut .Jadi dengan upaya ini diharapkan harapan hidup pasien tinggi dengan tidak membebani pasien dari segi biaya pengobatan dan memperbaiki kualitas hidup penderita kanker.

Dalam hal pelaksanaannya, deteksi dini merupakan tindakan dengan melakukan pencegahan dan pengendalian terhadap etiologi kanker. Etiologi kanker bersifat multifaktorial. Berbagai hal dapat mempengaruhi terjadinya kanker terhadap seorang individu. Interaksi lingkungan dengan individu merupakan faktor risiko penting terjadinya tumor seperti, kontak dengan karsinogen jangka lama di lingkungan pekerjaan dan berbagai pola dan gaya hidup suatu individu.

Usaha menemukan dan mendeteksi dini kanker sebagai bentuk pencegahan terhadap kanker dapat dibagi 3 bentuk yaitu, pencegahan primer yang merupakan upaya pencegahan sederhana dan efektif, pencegahan sekunder dengan metode skrining, dan pencegahan tersier dalam bentuk rehabilitasi pasien. Namun, pencegahan primer dan sekunder merupakan langkah terbaik dan efektif mencegah tumor stadium lanjut.

Pencegahan primer merupakan pencegahan kepada seorang individu sehat melalui pengendalian etiologi kanker sehingga dapat menghindarkan diri dari berbagai faktor pencetus dan risiko kanker. Metode pencegahan primer dapat dilakukan dokter dan individu. Dokter dapat melakukan upaya promosi kesehatan dengan cara memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada masyarakat tentang pencegahan kanker. Mengubah higiene buruk dan menjaga pola seksual sebagai faktor terjadi kanker serviks serta mengurangi diet tinggi lemak dan mengontrol asupan garam sebagai langkah mencegah diri terhadap faktor pencetus kanker lambung dapat dilakukan suatu individu dan usaha ini merupakan upaya pencegahan yang paling hemat dan efektif. Di samping itu, individu dapat melakukan pendeteksian awal tumor seperti, pemeriksaan rutin dengan perabaan payudara (SADARI). Maka, pencegahan primer merupakan langkah efektif namun sederhana dalam menurunkan faktor risiko kanker.

Menjaga pola makan sehat dan menghindarkan diri dari berbagai hal yang termasuk faktor risiko kanker seperti, tembakau, bahan kimia potensi karsinogen, dan stres serta menjaga ketahanan fisik dan kesehatan fungsi organ tubuh dengan berolahraga merupakan salah satu tindakan mencegah diri dari faktor risiko kanker.Lebih awal diterapkan dalam kehidupan sehari- hari semakin baik usaha individu dalam mencegah kerentanan faktor risiko kanker.Selain itu, dengan menghindari diri dari faktor risiko kanker dapat meningkatkan harapan hidup dengan terapi yang lebih sederhana seperti, terapi tumor stadium awal dapat dilakukan operasi namun, tidak memutuskan kemungkinan untuk mengalami pengobatan yang berujung gagal karena kanker merupakan salah satu penyakit dengan pengobatannya yang berisiko tinggi. Perlu ditekankan disini bahwa pencegahan diatas tidak berpengaruh mutlak dalam menghilangkan bakat sel kanker yg dimiliki seseorang. Contoh, jika individu memiliki gen kanker maka, individu tersebut tidak dapat menghilangkan secara mutlak gen tersebut dengan usaha menjaga pola makan serta menghindari diri dari hal risiko kanker tersebut.

Seperti yang telah disebutkan, salah satu tindakan dalam pendeteksian dini kanker adalah dengan melakukan skrining. Skrining adalah tindakan dengan melakukan beberapa pemeriksaan atau tes untuk mengelompokkan individu yang mempunyai faktor resiko untuk menentukan apakah positif atau tidaknya terhadap suatu penyakit. Maka, skrining termasuk dalam pencegahan sekunder kanker.

Skrining sebagai cara/ metode yang baik dan efektif dalam mendeteksi dini kanker pada dasarnya yaitu mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kanker dan melibatkan usahamenemukan kanker pada individu yang belum menderita kanker tapi mempunyai faktor risiko kanker. Jadi skrining lebih baik dilakukan pada usia 25- 30 tahun setelah diketahui bahwa individu tersebut berisiko tinggi terhadap kanker karena kanker tahap lanjut umumnya dialami individu lanjut usia. Namun, tiap pemeriksaan skrining mempunyai indikasi tertentu seperti kanker payudara direkomendasikan skrining usia muda dibawah 35 tahun, skrining kanker kolorektal usia 50 tahun ke atas, dan skrining kanker serviks dengan  usia 20 tahun ke atas.

Skrining bertujuan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap suatu penyakit seperti, skrining kanker serviks dengan papanicolaou test (PAP smear) dapat menurunkan 60%  morbiditas dan mortalitas terhadap wanita berisiko. Jadi skrining penyakit kanker adalah usaha untuk mendiagnosis dan  mencegah sebaik- baiknya penyakit  kanker,mengindentifikasi kanker lebih awal, dalam hal ini untuk tumbuh menjadi kanker stadium lanjut, agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar dari penderita sendiri. Manfaat lain yang dapat dirasakan dari skrining adalah dapat meningkatkan survival year >5 tahun.Apabila tes skrining positif dapat digunakan sebagai penegakan diagnosis.

Selain itu, skrining juga dapat digunakan untuk mengetahui seberapa baikkah atau efektivitas respon terapi yang diberikan seperti, seberapa efektifkah jika diberikan kemoterapi jangka panjang pada penderita kanker hati (karsinoma hepatoseluler) mengingat penyakit keganasan ini mempunyai prognosis buruk dengan adanya kontraindikasi seperti kontraindikasi absolut kemoterapi yaitu usia tua dengan staging terminal sehingga harapan hidup sangat pendek. Dengan adanya kontraindikasi tersebut, dokter harus memperhatikan faktor yang diperlukan dalam pemberian terapi seperti, dosis, cara pemberian, jadwal, keadaan medis pasien dengan memperhatikan fungsi organ inidividu tersebut .

Upaya deteksi dini dapat dilakukan oleh dokter maupun pasien sendiri. Kesadaran pasien sangat dibutuhkan dalam upaya ini dan merupakan bagian kebutuhan medis pasien itu sendiri dalam mencegah penyebaran kanker. Pengetahuan pasien tentang kanker yang dideritanya juga merupakan hal yang penting untuk menimbulkan kesadaran pasien betapa pentingnya mengetahui sedini mungkin penyakit yang dideritanya sehingga pasien segera melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit untuk mengindentifikasi apa sebenarnya yang terjadi pada diri pasien. Pengetahuan tentang penyakit kanker dapat diperoleh dengan mengikuti berbagi promosi kesehatan dan penyuluhan penyakit kanker. Jadi, kesadaran pasien, pengetahuan tentang penyakit ini, dan didukung dengan kooperatif pasien merupakan hal penting dalam upaya deteksi dini kanker.

Upaya yang dapat dilakukan dokter dalam mendeteksi kanker secara dini adalah dengan menemukan gejala atau keluhan yang terdapat pada pasien. Gejala dapat berupa gejala lokal seperti benjolan, gejala obstruksi ringan saluran pencernaan misalnya mual, kembung, dan obstruksi saluran pernafasan ringan. Gejala lokal ini biasanya tidak menganggu aktifitas sehari- hari pasien sehingga tidak menjadi perhatian utama pasien untuk segera melakukan pemeriksaan sehingga pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya. Maka, penderita sendiri enggan memeriksakan diri ke dokter maupun ke rumah sakit. Gejala sistemik kanker lebih kepada gejala yang mengenai jaringan tempat pertumbuhan kanker itu sendiri dan infiltrasi ke organ lainnya seperti kanker kolorektal yang menginfiltasi hepar dapat menimbulkan gejala berupa nyeri epigastrium dan keluarnya darah segar dari anus (hematoskezia). Pada tahap gejala sistemik inilah penderita memeriksakan dirinya sehingga dokter mendiagnosis penderita tersebut menderita kanker stadium lanjut.

Pemeriksaan rutin yang meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter merupakanupaya baik untuk mengetahui seawal mungkin tumor. Apabila penderita datang lebih awal ke dokter dalam melakukan pemeriksaan rutin, diagnosis dapat ditegakkan seawal mungkin.Ini merupakan salah satu tindakan dini untuk mencegah kanker stadium lanjut. Anamnesis  merupakan salah satu tindakan berupa tanya jawab dokter kepada pasien untuk menegakkan diagnostik suatu penyakit. Anamnesis kanker biasanya meliputi usia, pekerjaan, riwayat kanker sebelumnya, riwayat keluarga, diet,pengunaan obat- obatan,  pemeriksaan yang dilakukansebelumnya, dan keluhan yang dialami pasien. Anamnesis yang baik dapat menegakkan sekitar 55% diagnosis penyakit.

Dengan melakukan anamnesis yang baik, dokter mendapatkan hasil yang memuaskan dalam mendiagnosis suatu penyakit sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya. Maka, lebih awal pemeriksaan rutin yang dilakukan pasien dalam mengidentifikasi panyakit kanker, diagnosis pun dapat ditegakkan lebih awal. Pengobatan pun dapat diberikan lebih awal sebelum mencapai stadium lanjut. Pengobatan yang akan diberikan lebih awal dapat mencapai perbaikan dan prognosis yang baik sehingga tindakan ini merupakan salah satu upayabaik dalam deteksi dini.

Memiliki riwayat keluarga kanker merupakan salah satu alasan untuk rajin melakukan deteksi dini karena keturunan kanker biasanya memiliki bakat kanker, yaitu gen sel kanker,  yang dapat diturunkan. Di samping itu, beberapa faktor yang telah disebutkan diatas seperti usia lanjut dan keluhan merupakan alasan untuk melakukan pemeriksaan ini sedini mungkin.

Jadi, deteksi dini adalah salah satu cara ampuh, terutama bagi pasien muda dan memiliki faktor risiko, untuk mengetahui lebih awal penyakit kanker dan mencegah kanker pada tahap lanjut karena mengetahui lebih awal penyakit kanker dapat meningkatkan harapan hidup disamping menurunkan biaya pengobatan. Salah satu cara paling baik adalah melakukan pemeriksaan rutin secara teratur ke dokter atau rumah sakit dan melakukan tes skrining untuk mengetahui apakah kita berisiko kanker atau apakah kita sudah menderita penyakit keganasan ini namun kita pribadi tidak menyadarinya. Maka, cintailah diri sedini mungkin untuk mencapai hidup sehat selamanya.

About mrcfkua

MRC BEM KM FK UNAND : Aktif dan Prestatif ! Medicalstudent Research Centre Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (MRC BEM KM FK Unand), berdiri pada 24 Agustus 2004, merupakan UKMF yang memiliki ranah kerja: penelitian, kegiatan ilmiah, dan karya ilmiah. Dalam kepengurusan 2011/2012: Ketua Umum : Muhammad Helri Arif Sekretaris Umum : Mutia Lailani Bendahara : Afriyeni Sri Rahmi Terdiri dari Departemen Ilmiah, Departemen Kaderisasi, Biro Informasi dan Komunikasi, Biro Dana dan Usaha, Biro Kesekretariatan, dan Departemen Penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s