GIZI BERLEBIH PADA ANAK, PENYEBAB DAN DAMPAKNYA

  OBESITAS KARENA KESALAHAN POLA ASUH, MENGGANGGU PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK

Dewasa ini, obesitas pada anak telah menjadi topik pembicaraan masyarakat dunia. Di negara maju seperti Amerika Serikat misalnya, Presiden Barrack Obama bahkan telah menandatangani Healthy Hunger-Free Kids Act pada tanggal 13 Desember 2010 sebagai undang-undang untuk memerangi masalah gizi berlebih pada anak tersebut. Akan tetapi kesadaran seperti ini belum menjadi perhatian sebagian besar penduduk Indonesia. Kebanggaan memiliki anak berbadan gemuk masih mengakar di benak sebagian orang tua. Padahal, obesitas memiliki pengaruh buruk tidak hanya di sisi pertumbuhan anak, tetapi juga pada perkembangan psikologis mereka. Hal ini disebabkan karena efek pola asuh yang tidak tepat dan kesadaran orang tua yang minim, sehingga berdampak pada kebiasaan hidup anak yang buruk dan selanjutnya akan menjadi masalahan psikologis yang berkelanjutan.

  OBESITAS KARENA KESALAHAN POLA ASUH,

MENGGANGGU PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK

Oleh: Syandrez Prima Putra (0910311020)

Biro Danus MRC 2011/2012

 Menurut definisi yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO), obesitas atau kegemukan adalah ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi lemak pada tubuh yang menimbulkan resiko bagi kesehatan. Ukuran kuantitatif dalam penentuan obesitas dapat ditentukan melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dinilai berdasarkan berat dan tinggi badan seseorang. Untuk anak usia sampai 18 tahun, pengukuran IMT dapat dilakukan dengan melihat kurva IMT pada Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dapat diperoleh melalui Posyandu dan tempat pelayanan kesehatan lainnya. Seorang anak dikatakan obesitas apabila IMT-nya berada di atas presentil 95.

Prevalensi obesitas pada anak baru-baru ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 1980, angka kejadian obesitas anak usia 6-11 tahun di Amerika Serikat sekitar 6,5% dan meningkat menjadi 19,6% di tahun 2008. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010, rata-rata prevalensi obesitas pada anak di Indonesia adalah sekitar 14%, dan Provinsi DKI Jakarta tercatat memiliki prevalensi tertinggi, yakni 19,2%.

Obesitas pada anak merupakan permasalahan multifaktorial yang terutama disebabkan oleh asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan harian mereka. Hal ini berkaitan dengan pola makan yang berlebih dan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung kalori yang tinggi. Selain itu, gaya hidup yang malas (sedentary lifestyle) dan minimnya aktivitas fisik sehari-hari juga menjadi penyebab utama obesitas pada anak. Meskipun demikian, faktor genetik, hormonal dan kondisi sosio-ekonomi keluarga dan lingkungan juga turut mempengaruhi, demikian juga dengan efek perawatan medis, meskipun kejadiannya cukup langka. Akan tetapi, faktor diet dan sedentary lifestyle masih menjadi penyebab utama.

Pola asuh orang tua semenjak usia dini berkaitan sangat erat dengan penyebab utama obesitas pada anak. Hal ini berhubungan karena pendidikan dan pengajaran orang tua adalah informasi awal bagi anak usia dini untuk mulai menerapkan kebiasaan hidup mereka, termasuk kebiasaan makan dan beraktivitas. Pola asuh yang bersifat permisif sesuai definisi Baumrid (1967) adalah pola yang paling rentan dengan hal tersebut. Orang tua yang memiliki pola asuh demikian akan memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung untuk tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. Bimbingan yang diberikan juga sedikit. Orang tua dengan pola asuh demikian akan memenuhi segala permintaan sang anak sehingga mereka terlihat hangat dan disukai oleh anak.

Pola asuh permisif yang diterapkan orang tua kepada anak akan mendidik anak untuk menjadi manja dan cenderung mendikte orang tua. Kebiasaan ini juga akan berpengaruh pada pola makan sehari-hari. Anak akan bebas memilih makanan sesuai dengan keinginannya, sehingga resiko anak untuk mengonsumsi makanan serba enak yang cenderung tinggi kalori akan lebih tinggi. Hal ini diperparah dengan maraknya penyediaan makanan cepat dan siap saji tinggi kalori di pasaran dewasa ini. Apalagi jika orang tua berasumsi bahwa memiliki anak yang lahap dan berbadan gemuk adalah suatu prestasi yang layak dibanggakan. Apabila hal tersebut tidak diikuti dengan penetapan waktu makan yang terjadwal dan teratur, maka dikhawatirkan anak akan mengonsumsi lebih banyak kalori dari pada yang dibutuhkan.

Selain pola makan, pola asuh yang permisif juga akan mempengaruhi kebiasaan anak dalam beraktivitas. Kurangnya peranan orang tua untuk membatasi kebiasaan “malas bergerak” pada anak misalnya menonton televisi ataupun bermain game di depan komputer berjam-jam akan mengurangi kesempatan anak untuk bergerak dengan bebas. Akibatnya kalori yang ada di dalam tubuh tidak dibakar menjadi energi sehingga disimpan menjadi cadangan lemak tubuh. Jika hal ini telah menjadi rutinitas, maka akan terjadi penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh yang berujung kepada obesitas.

Obesitas sangat berdampak buruk bagi kesehatan anak. Anak yang mengalami obesitas akan beresiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa. Implikasi klinis lainnya yang menghawatirkan adalah meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus, serta penyakit-penyakit terkait gangguan metabolik seperti resistensi insulin dan dislipidemia. Resiko lainnya adalah terjadinya abnormalitas fungsi sistem organ seperti respirologi (sesak nafas), neurologi, muskuloskeletal, dan hepatologi. Penyakit-penyakit semacam itu tentu akan menurunkan kualitas hidup anak dan akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan fisik anak.

Selain pertumbuhan fisik, obesitas pada anak juga akan berdampak buruk pada perkembangan psikologis mereka. Berdasarkan penelitian terhadap 1.520 anak usia 9-10 tahun, terdapat korelasi positif antara obesitas dengan penurunan rasa percaya diri. Dari sekian anak yang mengalami obesitas, 19% diantaranya mengalami perasaan sedih, 48% mengalami kebosanan, dan 21% merasa gugup. Sebagai perbandingannya, anak-anak dengan tubuh normal, 8% diantaranya mengalami perasaan sedih, 42% mengalami kebosanan, dan 12% merasa gugup. Hasil tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dengan obesitas memiliki peningkatan resiko mengalami gangguan psikologis.

Obesitas pada anak yang berkaitan dengan pola asuh permisif yang diterapkan oleh orang tua erat kaitannya dengan pembentukan karakter dari anak itu sendiri. Kebiasaan dalam pola makan melebihi kebutuhan dan pola aktivitas yang sedentary yang diterapkan sejak kecil tanpa pengawasan yang baik dari orang tua akan terbawa sampai anak beranjak ke usia dewasa. Hal ini dapat diakibatkan karena tubuh telah beradaptasi dengan kebiasaan tersebut dan sulit untuk diubah. Hal semacam ini secara tidak langsung telah mempengaruhi perkembangan psikologi seorang anak.

Selain itu, gangguan pada perkembangan psikologi anak akan semakin meningkat di saat memasuki usia sekolah. Tuntutan pergaulan tentunya akan berimplikasi langsung terhadap kesiapan mental anak dalam berinteraksi secara sosial ditengah kondisi fisik yang kurang mendukung. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A menjelaskan bahwa efek psikologis karena obesitas berdampak negatif pada anak, dimana mereka rentan dengan kondisi depresi dan terisolasi dari lingkungan. Bahkan menurut Zametkin, dalam bukunya Academic Child Adoles Physhiatry, menjelaskan bahwa depresi yang ditimbulkan dari obesitas membuat anak mempunyai keinginan dan melakukan percobaan bunuh diri.

Jadi, obesitas pada anak dapat disebabkan oleh kesalahan pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anak sejak dini, sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan psikologis mereka. Pola asuh yang bersifat permisif akan menimbulkan pola diet berlebihan dan sedentary lifestyle, dimana keduanya adalah penyebab utama dari obesitas. Pola yang demikian itu akan menjadi kebiasaan anak hingga dewasa yang sulit diubah. Jika hal ini terus berlanjut hingga usia sekolah, pertumbuhan anak akan terganggu dan anak akan mengalami penurunan rasa percaya diri serta kesulitan dalam berinteraksi secara sosial. Hal tersebut akan membuat anak rentan mengalami depresi dan komplikasi psikologis yang berkelanjutan.

 DAFTAR PUSTAKA

Candra, A., Bramirus, M. 2011. http://health.kompas.com/read/2011/04/20/1700420/Gizi.Lebih.Ancaman.Tersembunyi.pada.Anak. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 15:56 WIB.

http://en.wikipedia.org/wiki/Childhood_obesity. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 11:15 WIB.

http://kidshealth.org/parent/general/body/overweight_obesity.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 10:40 WIB.

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/02/macam-macam-pola-asuh-orang-tua.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 14:05 WIB.

http://www.buzzle.com/articles/child-obesity-statistics-in-america2011.html. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 15:37 WIB.

http://www.emedicinehealth.com/obesity_in_children/page2_em.htm. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 12:09 WIB.

http://www.who.int/topics/obesity/en/. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 11:54 WIB.

Wahyuningsih, Renny. 2010. http://www.detikfood.com/read/2010/12/17/133816/1527202/294/perangi-obesitas-anak-obama-bikin-uu. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 10:58 WIB.

Wicaksono, Dipo. 2011. http://today.co.id/read/2011/04/20/26440/obesitas_berdampak_negatif_bagi_psikologis_anak. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011, 19:23 WIB.

Yussac, Muhammad Artisto Adi, dkk. 2007. Prevalensi Obesitas pada Anak Usia 4-6 Tahun dan Hubungannya dengan Asupan Serta Pola Makan. Majalah Kedokteran Indonesia. LVII (2): 47-53.

 

About mrcfkua

MRC BEM KM FK UNAND : Aktif dan Prestatif ! Medicalstudent Research Centre Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (MRC BEM KM FK Unand), berdiri pada 24 Agustus 2004, merupakan UKMF yang memiliki ranah kerja: penelitian, kegiatan ilmiah, dan karya ilmiah. Dalam kepengurusan 2011/2012: Ketua Umum : Muhammad Helri Arif Sekretaris Umum : Mutia Lailani Bendahara : Afriyeni Sri Rahmi Terdiri dari Departemen Ilmiah, Departemen Kaderisasi, Biro Informasi dan Komunikasi, Biro Dana dan Usaha, Biro Kesekretariatan, dan Departemen Penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s