HIPERTENSI PADA ANAK

MUNGKINKAH???

Oleh: Syntia Ambelina (0910312079)

Departemen Ilmiah MRC 2011/2012

Hipertensi atau lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi untuk kita dengar sehari-hari. Penyakit ini bahkan sudah dianggap biasa jika diderita oleh orang tua yang berusia lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, apabila hipertensi diderita oleh anak-anak yang belum mencapai usia 18 tahun mungkinkah?

Ternyata, apabila kita teliti lebih lanjut hipertensi tidak hanya dapat diderita oleh orang dewasa saja, tetapi juga dapat diderita oleh anak-anak bahkan bayi sekalipun dan dapat mengancam jiwa mereka hingga menimbulkan kematian. Apabila tidak mendapat penanganan yang tepat, diperkirakan 2/3 anak dengan hipertensi akan menderita penyakit kerusakan ginjal nantinya.1

Sebelum mengulas lebih lanjut mengenai hipertensi pada anak, ada baiknya kita mengenal apa itu hipertensi terlebih dahulu. Hipertensi pada anak adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik dan atau diastolik anak > persentil 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit dalam 3 kali pengukuran berturut-turut.2

Seorang anak yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi, terlahir dengan berat badan rendah, tetapi kemudian mengalami kelebihan berat badan (obesitas), menderita penyakit jantung bawaan, kurang aktivitas fisik, gemar mengonsumsi garam, lemak, dan gula berlebihan, memiliki risiko terkena penyakit hipertensi yang cukup besar.1

Hipertensi yang terjadi pada anak dapat dibedakan menjadi dua yaitu: hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau essensial adalah suatu peningkatan tekanan darah yang etiologi atau penyakit yang mendasarinya tidak diketahui. Namun, faktor seperti keturunan, asupan garam, dan obesitas dapat memainkan peran dalam hipertensi essensial. Sedangkan hipertensi sekunder adalah suatu peningkatan tekanan darah yang etiologinya diketahui. Penelitian membuktikan bahwa 80% hipertensi pada anak  merupakan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit ginjal, seperti gromerulonefritis, pielonefritis kronis, dan kurang lebih 25-50% mempunyai riwayat infeksi traktus urinarius.1

Patofisiologi hipertensi pada penyakit ginjal dapat disebabkan oleh hipervolemia, gangguan sistem renin, angiotensin, dan aldosteron, serta berkurangnya zat vasodilator.2

Hipervolemia disebabkan karena retensi air dan natrium, efek ekses mineralokortikoid terhadap peningkatan reabsorpsi natrium dan air di tubuli distal. Hipervolemia menyebabkan curah jantung meningkat dan mengakibatkan hipertensi. Keadaan ini sering terjadi pada glomerulonefritis dan gagal ginjal.2

Renin adalah enzim yang diekskresikan oleh sel aparatus juksta glomerulus. Apabila terjadi penurunan  aliran darah intrarenal dan penurunan laju filtrasi glomerulus, aparatus juksta glomerulus akan terangsang untuk mensekresikan renin yang akan mengubah angiotensinogen yang berasal dari hati menjadi angiotensin I. Kemudian angiotensin I oleh angiotensin converting enzym diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah tepi dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Selanjutnya, angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan aldosteron. Aldosteron meningkatkan retensi natrium dan air di tubuli ginjal, dan menyebabkan tekanan darah meningkat.2

Zat vasodilator yang dihasilkan oleh medula ginjal adalah prostaglandin A2, kilidin, dan bradikinin. Seorang anak yang menderita penyakit ginjal kronik memiliki kadar zat vasodilator yang lebih sedikit daripada  anak yang normal. Berkurangnya kadar zat vasodilator ini berperan penting dalam patofisiologi hipertensi ginjal.2

Anak yang menderita hipertensi derajat ringan atau sedang umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, dari berbagai penelitian yang dilakukan, kebanyakan anak yang menderita hipertensi tidak sepenuhnya bebas dari gejala. Gejala non spesifik berupa nyeri kepala, insomnia, rasa lelah, nyeri perut atau nyeri dada dapat dikeluhkan. Sedangkan pada keadaan hipertensi berat yang bersifat mengancam jiwa atau menggangu fungsi organ vital dapat timbul gejala nyata yang sangat bervariasi, seperti sakit kepala, pusing, nyeri perut, muntah, gangguan penglihatan, nafsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, sesak nafas, nyeri dada dan keringat berlebihan, serta tumbuh kembang yang terganggu. Sedangkan komplikasi utama hipertensi pada anak melibatkan sistem saraf pusat, mata, jantung, dan ginjal.3

Diagnosa hipertensi pada anak baru dapat ditegakkan apabila setelah dilakukan pengamatan selama beberapa minggu tekanan darah anak tetap tinggi, diatas persentil 95, atau ditemukan gejala hipertensi sekunder.1

Apabila diagnosa hipertensi pada anak telah ditegakkan, maka perlu dilakukan penatalaksanaan sedini mungkin. Penatalaksanaan hipertensi pada anak ditujukan pada penyebab naiknya tekanan darah dan mengurangi gejala. Penatalaksanaan dapat berupa terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi.3

Terapi nonfarmakologi dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Terapi ini meliputi pengendalian berat badan, olahraga teratur, serta melakukan intervensi diet pada anak. Pengurangan berat badan telah terbukti efektif pada anak yang mengalami obesitas dan disertai hipertensi. Mengendalikan berat badan tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi juga menurunkan sensitivitas tekanan darah terhadap garam, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi tekanan darah kurang dari persentil 95.3

Olahraga teratur dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Olahraga minimal dilakukan selama 30-60 menit per hari. Intervensi diet pada anak dapat berupa peningkatan diet sayuran dan buah segar, makanan rendah lemak, serta konsumsi garam yang terkontrol yaitu hanya 1,2 g/hari (anak 4-8 tahun)  dan 1,5 g/hari untuk anak yang lebih besar untuk membantu manajemen hipertensi. Pengurangan garam pada anak dan remaja disebutkan dapat mengurangi tekanan darah sebesar 1 sampai 3 mmHg.3

Terapi farmakologi baru diberikan apabila ditemukan keadaan hipertensi yang mengakibatkan kerusakan organ target pada anak, seperti hipertrofi ventrikel kiri, retinopati, proteinuria, hipertensi sekunder, dan hipertensi primer yang tidak respon dengan perubahan gaya hidup. Apabila terdapat kerusakan organ target atau terdapat penyakit yang mendasari maka tujuan terapi adalah untuk mengurangi tekanan darah kurang dari persentil 90. Dalam memilih terapi farmakologi harus dipertimbangkan efikasi ketersediaan obat, frekuensi pemberian, efek samping, serta biaya yang harus dikeluarkan.3

Sebenarnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko hipertensi pada anak, seperti memberikan ASI esklusif pada bayi hingga usia 6 bulan, mengubah pola makan anak apabila menderita obesitas atau hasil diagnosis menunjukkan hipertensi, serta melakukan program penurunan berat badan apabila anak telah mengalami obesitas.1

Apabila hipertensi pada anak tidak ditangani dengan baik, kemungkinan terjadinya komplikasi pada organ tubuh lain sangat besar, seperti pembengkakan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, gangguan penglihatan, sampai kebutaan.1

Itulah mengapa beberapa ahli dan organisasi hipertensi internasional menganjurkan agar anak-anak yang telah berusia di atas 3 tahun melakukan pengukuran tekanan darah sekali setahun secara teratur untuk mengetahui ada tidaknya hipertensi agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Sehingga komplikasi yang tidak diinginkan seperti pembengkakan jantung, gagal ginjal, gangguan saraf, dan kebutaan dini pada anak kita sebagai generasi penerus bangsa dapat dihindari.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sanif, M. Edial. 2009. Hipertensi pada Anak. Diunduh dari: http://www.jantunghipertensi.com/hipertensi/79.html. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.05.
  2. Noer, M. Sjaifullah, Ninik Soemyarso. 2006. Hipertensi. Diunduh dari: http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-hrji262.htm. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.10.
  3. Supartha, Made, I Ketut Suarta, Ida Bagus Agung Winaya. 2009. Hipertensi pada Anak. Diunduh dari: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/59509221231.pdf. Diunduh pada: 4 November 2011. Pukul 13.00.

 

About mrcfkua

MRC BEM KM FK UNAND : Aktif dan Prestatif ! Medicalstudent Research Centre Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (MRC BEM KM FK Unand), berdiri pada 24 Agustus 2004, merupakan UKMF yang memiliki ranah kerja: penelitian, kegiatan ilmiah, dan karya ilmiah. Dalam kepengurusan 2011/2012: Ketua Umum : Muhammad Helri Arif Sekretaris Umum : Mutia Lailani Bendahara : Afriyeni Sri Rahmi Terdiri dari Departemen Ilmiah, Departemen Kaderisasi, Biro Informasi dan Komunikasi, Biro Dana dan Usaha, Biro Kesekretariatan, dan Departemen Penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s